Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Ini sentimen domestik yang akan pengaruhi IHSG


Best Profit - JAKARTA. Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tentu tak terlepas dari pengaruh kondisi internal dan eksternal. Sejumlah sentimen diprediksi akan menjadi tantangan bagi pertumbuhan IHSG di tahun ini. Kepala Riset Capital Buana, Alfred Nainggolan menyampaikan, untuk risiko dari dalam negeri ada empat poin. Pertama, potensi perlambatan ekonomi. Meskipun kemungkinannya kecil, namun jika mengaca pada sejarah sebelumnya itu mungkin terjadi. 

Realisasi belanja pemerintah menjadi faktor penentu,” ujar Alfred kepada KONTAN, Senin. Kedua, kurs rupiah atau depresiasi rupiah. Meskipun kontribusinya tidak langsung ke IHSG namun ini tentunya akan berpengaruh terhadap emiten dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tentunya ini menjadi faktor kuat yang akan mempengaruhi IHSG. 

Ketiga yaitu inflasi. Jika inflasi tinggi, ada potensi Bank Indonesia akan melakukan kebijakan moneternya yakni menaikan suku bunga. Suku bunga kredit akan mengalami kenaikan dan cost masing-masing emiten akan mengalami kenaikan dan membuat emiten tergerus dari sisi laba. Keempat yaitu dari sisi kebijakan auto rejection simetris. Namun pada dasarnya kebijakan ini perlu dilakukan karena membuat pasar menjadi wajar.

Memang ini jadi risiko tapi harus dilakukan untuk menciptakan pasar yang fair,” ungkapnya. Sementara, Kepala Riset Erdhika Securities, Wilson Sofan menilai, kondisi dalam negeri lebih banyak mendapat sentimen positif dibandingkan sentimen negatif. Proyek-proyek pemerintah sedang digenjot. “Ini menjadi sentiment positif,” katanya. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini