Prospek Saham Rumah Sakit di 2026: Cek Pendorong Kinerja & Tantangan Tersembunyi

  Prospek emiten sektor rumah sakit pada tahun 2026 diperkirakan tetap cerah seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan dan ekspansi jaringan rumah sakit yang masih berlanjut. Head Research Korea Invesment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, peningkatan volume pasien, baik dari segmen BPJS maupun pasien privat, akan menjadi pendorong utama kinerja sektor ini.  Selain itu, ekspansi rumah sakit turut meningkatkan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR). Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan saham emiten rumah sakit seperti PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ). “Peningkatan volume pasien serta ekspansi akan mengerek tingkat keterisian tempat tidur (BOR). Hal ini langsung mendongkrak margin profitabilitas dan laba,” ujar Wafi kepad...

Dulu Dikuasai Institusi, Kini Hampir 40% SUN FR Dibeli Investor Individu

 

Basis investor Surat Berharga Negara (SBN) individu terus menunjukkan perkembangan. 

Tidak hanya terbatas pada instrumen SBN ritel, investor individu kini mulai merambah pembelian SBN yang selama ini identik dengan investor institusi atau pasar wholesale.

Plt Direktur Surat Utang Negara (SUN) Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, menyebut tren tersebut sebagai dampak langsung dari meningkatnya literasi keuangan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.

“Investor individu di instrumen wholesale juga beli. Misalnya pernah dengar nggak, yang fixed rate (FR) yang kami tawarkan di lelang? Fixed rate itu kan diperdagangkan juga di pasar sekunder, itu juga investor individu juga cukup banyak,” ujar Novi usai agenda ORASI di Aroem Resto, Rabu (28/1/2026).

Bahkan, dicatatnya dua tahun terakhir porsi investor individu di instrumen Surat Utang Negara (SUN) seri fixed rate (FR) telah hampir berimbang dengan investor institusi, mencerminkan perubahan signifikan dalam struktur pasar.

"Bahkan itu pun itu berimbang, hampir 40% lebih itu dari investor individu, itu beli yang FR itu," bubuhnya.

Akses yang semakin mudah turut mendorong peningkatan partisipasi investor ritel di SBN wholesale. Melalui perbankan dan platform digital, pembelian SUN FR kini bisa dilakukan dengan nominal relatif kecil.

“Lewat mobile banking atau aplikasi fintech, dengan Rp 1 juta saja investor individu sudah bisa membeli SUN fixed rate, bukan hanya ORI,” kata Novi.

Meski tren ini mencerminkan keberhasilan upaya literasi keuangan, Novi mengingatkan bahwa ruang pengembangan investor domestik masih sangat besar. 

Jika menggunakan Single Investor Identification (SID) sebagai proksi, jumlah investor pasar keuangan baru sekitar 7% dari total penduduk Indonesia.

“Itu trend-nya sudah dari dua tahun terakhir itu semakin meningkat sih. Jadi artinya ya, kita bisa bilang literasi kita berhasil, tapi PR-nya masih banyak," pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025