Prospek Saham Rumah Sakit di 2026: Cek Pendorong Kinerja & Tantangan Tersembunyi

  Prospek emiten sektor rumah sakit pada tahun 2026 diperkirakan tetap cerah seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan dan ekspansi jaringan rumah sakit yang masih berlanjut. Head Research Korea Invesment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, peningkatan volume pasien, baik dari segmen BPJS maupun pasien privat, akan menjadi pendorong utama kinerja sektor ini.  Selain itu, ekspansi rumah sakit turut meningkatkan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR). Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan saham emiten rumah sakit seperti PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ). “Peningkatan volume pasien serta ekspansi akan mengerek tingkat keterisian tempat tidur (BOR). Hal ini langsung mendongkrak margin profitabilitas dan laba,” ujar Wafi kepad...

Saham KLBF Dekati Terendah 5 Tahun, Analis Nilai Masih Layak Dikoleksi di 2026

 

Harga saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) terus melemah hingga mendekati level terendah dalam lima tahun terakhir. Kondisi ini justru dinilai analis sebagai peluang investasi, mengingat kinerja keuangan perusahaan masih solid.

Pada perdagangan Selasa (27/1/2026), saham KLBF ditutup di level Rp1.135, turun 3,81% dibandingkan hari sebelumnya. Dalam lima tahun terakhir, harga saham KLBF sempat menyentuh level terendah di Rp1.050 pada Maret 2025.

Meski harga saham tertekan, laba bersih Kalbe Farma tetap tumbuh 10,63% secara tahunan hingga September 2025. Head of Research Kisi Sekuritas Muhammad Wafi menilai koreksi harga membuka peluang rerating valuasi.

Prospek 2026 masih menarik. Koreksi di tengah kenaikan kinerja membuat valuasi lebih atraktif,” ujar Wafi.

Ia menilai target pertumbuhan penjualan 6%–8% pada 2026 tergolong realistis, ditopang segmen obat resep dari program JKN serta ekspansi distribusi. Tekanan biaya impor juga dinilai terkendali berkat bauran produk bermargin tinggi, terutama nutrisi dan consumer health.

Momentum Ramadan berpotensi menjadi katalis jangka pendek, seiring peningkatan permintaan produk kesehatan. Wafi memproyeksikan laba bersih KLBF tumbuh 10%–12% YoY pada 2026, dengan rekomendasi buy dan target harga Rp1.750 per saham.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan saham KLBF lebih disebabkan rotasi sektor dan sentimen rupiah, bukan pelemahan fundamental. Menurutnya, KLBF tetap menarik sebagai saham defensif.

Untuk jangka menengah hingga panjang, Ekky merekomendasikan akumulasi bertahap dengan target harga di kisaran Rp1.600 per saham.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025