Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Sido Muncul (SIDO) Bagikan Dividen Jumbo, Ini yang Harus Diperhatikan Investor

 

Emiten jamu dan farmasi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menunjukkan komitmennya terhadap pemegang saham dengan membagikan 100% laba bersih tahun buku 2024 sebagai dividen tunai. Namun ini terjadi di tengah penurunan laba bersih yang mencapai 40,4% pada kuartal I 2025.

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila menilai bahwa saham SIDO masih menarik untuk dikoleksi.

“SIDO dari sisi sektor dan industri masih cukup defensif terhadap perekonomian. Pembagian dividen yang konsisten hingga saat ini juga menunjukkan bahwa manajemen masih punya komitmen terhadap pemegang saham,” terang Indy pada Kontan, (5/5).

Kendati adanya dividen yang menjadi daya tarik di tengah SIDO yang secara valuasi masih tinggi, Indy mengingatkan bahwa investor jangka panjang tetap perlu memantau strategi ekspansi dan fundamental perusahaan secara menyeluruh.

Ia menjelaskan bahwa secara price to earnings ratio (PER), valuasi saham SIDO masih relatif mahal jika dibandingkan dengan emiten sejenis di sektor kesehatan. Saat ini, PER SIDO berada di kisaran 14 kali, yang dianggap tidak murah mengingat pertumbuhan kinerjanya cenderung stagnan dalam beberapa kuartal terakhir.

Namun, Indy juga membenarkan saat ditanya terkait kemungkinan pemangkasan dividen SIDO di periode selanjutnya.

“Betul, bisa jadi ada pemangkasan dividen di tahun depan karena ada kekhawatiran dari arus kas dan laba yang tertekan,” ujarnya.

Di sisi lain, SIDO masih mampu menjaga margin di tengah tekanan profitabilitas, meskipun sektor kesehatan secara umum juga mengalami pelemahan akibat kondisi ekonomi yang belum stabil dan minimnya dukungan regulasi pemerintah.

“Jika investor mengincar stabilitas dan pertumbuhan moderat, terutama momentum dividen, maka bisa di-hold. Tapi jika mencari saham dengan pertumbuhan lebih tinggi dan yield yang lebih besar, mungkin perlu lebih selektif lagi,” pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini