Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Harga Emas Naik Pada Jumat (23/8) Pagi, Pasar Menanti Pidato Powell di Jackson Hole

 

Harga emas naik pada perdagangan Jumat (23/8) pagi. Pukul 07.30 WIB, harga emas spot ada di level US$ 2.487,72 per ons troi, naik 0,12% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 2.484,75 per ons troi.

Mengutip Bloomberg, harga emas naik tipis setelah turun kemarin, lantaran investor menanti pidato Gubernur Federal Reserve Jerome Powell pada pertemuan Jackson Hole yang diharapkan dapat memberikan petunjuk baru mengenai jalur kebijakan moneter bank sentral.

Kemarin, harga emas turun 1,1% imbas dari penguatan dolar AS. Penguatan dolar biasanya berdampak negatif terhadap emas.

Fokus

Fokus investor tertuju pada pidato Powell dalam simposium Jackson Hole Jumat (23/8) malam. 

Emas diperdagangkan dalam kisaran yang relatif sempit pekan ini, setelah mencapai rekor tertinggi baru sepanjang masa pada Selasa kemarin.

Sepanjang tahun ini, harga emas telah naik lebih dari 20%, didukung oleh pembelian besar oleh bank sentral dan tingginya permintaan safe haven di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah dan Ukraina.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025