Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Jaya Trishindo (HELI) akan Menambah 2 Armada Helikopternya

 

Di tahun 2024, PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) emiten penyewaan helikopter berencana ekspansi dengan menambah unit armada dengan nilai investasi sebesar Rp 20 miliar. Armada tambahan ini terdiri dari satu helikopter ukuran medium dan satu helikopter ukuran kecil. 

“Unit baru itu kita beli yang medium, kapasitasnya untuk 9 orang. Satu lagi yang kelas kecil untuk 4 orang, nilainya (investasinya) Rp 20 miliar,” ungkap Direktur Utama Jaya Trishindo Edwin Widjaja saat ditemui Kontan di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (21/03).

Selain itu, di tahun ini HELI ungkap dia juga akan mengalokasikan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp 10 miliar hingga Rp 20 miliar. 

“Capex Rp 10 miliar hingga Rp 20 miliar. Kita alokasikan untuk mendukung cadangan dana perusahaan serta operasional kita, karena kita kan masih recovery dari lost kita yang cukup besar di tahun 2022,” ungkap Edwin.

Memang jika melirik pada laporan keuangan, sepanjang 2022 HELI membukukan rugi bersih sebelum pajak sebesar Rp85,80 miliar dan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp85,57 miliar.

Namun pada tahun 2023, perseroan bisa memperbaiki kinerja dengan mencatatkan pendapatan senilai Rp 69,08 miliar hingga di penghujung tahun dengan laba bersih Rp 600 juta. 

Hingga saat ini, HELI telah memiliki enam buah helikopter. Dengan rincian dua helikopter besar dengan empat helikopter ukuran kecil. 

“Jenis heli yang ada itu dua yang helikopter berat untuk servis kebakaran hutan dan empat helikopter kecil untuk di daerah papua. Kalau yang kecil muatannya 1 ton, kalo yang besar kapasitasnya 5 ton,” jelas Edwin.

Saat ini, HELI memiliki servis dalam bentuk Helikopter Mesin Tunggal atau Single Engine Helicopter yang biasanya digunakan untuk hobi terbang atau sekelompok kecil orang. Dengan kapasitas maksimum 7 penumpang dari transportasi VIP, survei udara untuk evakuasi medis.

Kemudian ada pula helikopter 2 Mesin kembar atau Twin Engine Helicopter yang menawarkan lebih banyak ruang untuk penumpang dan ruang untuk bagasi dengan kenyamanan maksimal. Dengan kapasitas 6 hingga 12 penumpang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini