Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Bursa Asia Bervariasi di Pagi Ini (26/3), Ini Sentimen yang Menopangnya

 

Bursa Asia dibuka bervariasi pada hari ini. Selasa (26/3), pukul 08.24 WIB, indeks Nikkei 225 naik 0,11% ke 40.457,01. Sejalan, Hang Seng dibuka menguat 0,45% ke 16.548,5.

Sementara itu, indeks Taiex naik 0,68% ke 20.330,12 dan indeks Kospi juga menguat 1,39% menjadi 2.775,72. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 melemah 0,01% ke 7.811.

Di sisi lain, FTSE Straits Times naik 0,29% ke 3.207,41. Sedangkan FTSE Malay melemah 0,24% ke 1.533,79.

Pasar Asia bervariasi karena pasar Amerika Serikat (AS) mengambil jeda menyusul reli yang dipicu oleh optimisme terhadap sikap suku bunga Federal Reserve pada pertemuan terbarunya.

Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research, mencatat bahwa ekuitas menjadi mahal, dengan indeks S&P sekarang diperdagangkan dengan premi 33% terhadap rasio harga terhadap pendapatan rata-rata selama 20 tahun terakhir.

“Kita mulai mencapai titik tertinggi pasca FOMC,” katanya kepada CNBC, mengacu pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) AS minggu lalu.

“Pasar menjadi semakin rentan terhadap penurunan pasar atau mundurnya harga,” lanjutnya.

Sementara itu, investor di Asia juga menunggu data ekonomi dari Asia Tenggara, termasuk output manufaktur Singapura dan neraca perdagangan Thailand. Indeks harga produsen jasa Jepang untuk bulan Februari mencapai 2,1%.

Di sisi lain, ketiga indeks utama Wall Street ditutup melemah, dengan Dow Jones Industrial Average melemah 0,41%, indeks S&P 500 turun 0,31% dan indeks Nasdaq Composite melemah 0,27%.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini