Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Mengintip Potensi Dividen Telkom (TLKM) Usai Labanya Naik Dua Digit

 

Kinerja fundamental PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih solid. Di tengah penurunan harga sahamnya, para analis menilai saham emiten pelat merah ini menarik untuk dicermati. 

Melansir laporan keuangan yang dirilis pada Senin (25/3), Telkom berhasil mengantongi pendapatan Rp 149,21 triliun di 2023 yang berhasil tumbuh 1,30% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 147,30 triliun.

Dari sisi bottom line, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk TLKM mencapai Rp 24,56 triliun. Ini melonjak 18,34% secara tahunan dari Rp 20,75 triliun.

Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina menuturkan secara tahunan, kinerja Telkom unggul dibanding dengan peers lainnya. Namun secara kuartalan kinerja TLKM justru menurun. 

Pada periode Oktober–Desember 2024 pendapatan Telkom mencapai Rp 37,97 triliun. Ini hanya naik 1% secara kuartalan atau quarter on quarter (QoQ) dari Rp 37,76 triliun. 

Kendati begitu, laba operasional Telkom turun 21% QoQ menjadi Rp 9,4 triliun. Kemudian, laba bersih TLKM terpantau turun 25% QoQ dari Rp 6,74 triliun di kuartal IV-2023 menjadi Rp 5,06 triliun.

Martha menilai secara valuasi, TLKM masih tergolong menarik dibandingkan peers. Hingga akhir perdagangan Senin (25/3), Price Book Ratio (PER) TLKM berada di level 15,04 kali. 

"Telkom punya keunggulan dari sisi rasio keuangan dan harganya cukup menarik. Secara fundamental kami merekomendasikan TLKM," kata Martha, Senin (25/3). 

Namun Martha mencermati peluang pertumbuhan Telkom akan cenderung terbatas. Mengingat dari jumlah pelanggan mobile TLKM mencapai 159,3 juta dan pelanggan IndiHome residensial (B2C) 8,7 juta per 2023.

"Telkom lebih murah secara valuasi dan rasionya paling bagus, tetapi pertumbuhannya terbatas, pertumbuhannya ke depannya akan mengandalkan bisnis fixed broadband," ucapnya. 

Di sisi lain, Investment Analyst Stockbit Sekuritas Arvin Lienardi menjelaskan laba bersih TLKM selama 2023 setara dengan Earning per Share (EPS) sebesar Rp 247,9 per saham. 

Dengan potensi Dividend Payout Ratio di kisaran 60%–80%, maka potensi dividen per saham yang akan dibayarkan kepada pemegang saham di kisaran Rp 149–Rp 198 per saham. 

Jika menggunakan harga penutupan di Senin (25/3), TLKM berada di level Rp 3.730 yang terkoreksi 4,36%, maka estimasi dividend yield Telkom berada di kisaran 3,9%–5,3%. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini