Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

70 Persen Followers Elon Musk di Twitter Diduga Akun Palsu

 

Inflasi Jepang Jebol ke 2,1 Persen April 2022

Jepang mencatat kenaikan inflasi inti ke level 2,1 persen secara tahunan pada April 2022. Rekor tertinggi sejak tujuh tahun terakhir ini terjadi karena sejumlah toko penjual bahan impor mulai menaikkan harga jual produk mereka.
Melansir AFP, Jumat (20/5), tingkat inflasi ini hampir tiga kali lipat dari bulan sebelumnya sebesar 0,8 persen. Padahal, realisasi inflasi Maret sudah meningkat tinggi dalam dua tahun terakhir di era pandemi covid-19 karena kenaikan harga minyak dunia.

Tapi kini, inflasi Jepang meningkat lebih tinggi lagi, bahkan sampai jebol dari target bank sentral Jepang Bank of Japan sebesar 2 persen pada tahun ini. Inflasi Jepang juga berada di atas ekspektasi para pelaku pasar keuangan di angka yang sama.

Inflasi tinggi Jepang terjadi karena harga komoditas meningkat di pasar internasional. Apalagi, kenaikan harga semakin parah sejak perang Rusia-Ukraina pecah pada Februari 2022.

Lebih lanjut, rekor inflasi Jepang terjadi di tengah ambruknya nilai tukar yen terhadap dolar AS. Bahkan, yen menyentuh level terendah dalam 20 tahun terakhir, meski Bank of Japan telah melonggarkan sejumlah kebijakan moneter di Negeri Sakura itu.

Kendati begitu, Bank of Japan melihat kenaikan harga mungkin tidak berlangsung lama. Namun, hal ini belum tentu bisa mencapai target inflasi mereka pada tahun ini.

Di sisi lain, rekor kenaikan inflasi sejatinya bukan hanya terjadi di Jepang, tapi juga di negara-negara lain. Salah satunya Inggris yang mencapai 9 persen dan memecahkan rekor tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Realisasi ini membuat Inggris diproyeksi menjadi negara dengan inflasi tertinggi di kawasan Eropa dan jajaran negara G7. Inflasi Inggris terjadi karena kenaikan harga energi sejak perang Rusia-Ukraina pecah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025