Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Rupiah Lesu di Rp14.240 per Dolar AS Jelang Pidato The Fed


Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.240 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat (23/8) pagi. Rupiah melemah 0,01 persen dibanding penutupan pada Kamis (22/8), yakni Rp14.239 per dolar AS.

Pagi hari ini, pergerakan mata uang utama Asia bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang melemah, seperti dolar Singapura sebesar 0,01 persen, peso Filipina sebesar 0,03 persen, yen Jepang sebesar 0,08 persen, dan won Korea Selatan sebesar 0,33 persen.

Namun, terdapat pula mata uang yang menguat, seperti dolar Hong Kong sebesar 0,03 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,03 persen, dan baht Thailand sebesar 0,07 persen.

Pergerakan mata uang negara maju juga bervariasi, di mana poundsterling Inggris melemah 0,07 persen. Sementara, dolar Australia menguat 0,04 persen dan euro tak bergerak melawan dolar AS.
Meski melemah tipis, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah hari ini berpotensi menguat seiring ekspektasi pelaku pasar bahwa arah kebijakan bank sentral AS kemungkinan akan bernada dovish.

Pilihan redaksi
www.ptbestprofit.com
www.ptbestprofitfutures.com
www.pt-bestprofit.com


Pidato ini cukup ditunggu lantaran bisa memberi arah kebijakan moneter AS setelah tanda-tanda resesi menghantui AS beberapa waktu belakangan.

Sinyal resesi terlihat dari imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor pendek yang lebih besar dibandingkan obligasi bertenor panjang. Kondisi yang lazim disebut inverted yield curve ini menandakan pesimisme terhadap ekonomi AS ke depan.
Diketahui pelaku pasar kini fokus terhadap pidato Gubernur The Fed Jerome Powell yang bertempat di Jackson Hole, Wyoming, meski risalah pertemuan The Fed yang dirilis Kamis (22/8) tidak memberi sinyal soal pelonggaran moneter yang agresif.

"Dalam perdagangan akhir pekan rupiah kemungkinan akan kembali menguat tipis sambil menunggu keputusan The Fed. Adapun, rentang rupiah hari ini di level Rp14.190 hingga Rp14.260 per dolar AS," jelas Ibrahim.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini