Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Waspadai efek penerbitan obligasi global


PT Best Profit Futures Pekanbaru Walaupun nilai tukar rupiah masih dalam tren bearish, hal ini tak menurunkan minat emiten menerbitkan obligasi global. Padahal, surat utang berdenominasi dollar AS ini dapat menekan neraca keuangan jika rupiah tertekan.Di semester II-2017, ada lima emiten yang sudah dan akan terbitkan obligasi global. 

Yakni PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT ABM Investama Tbk (ABMM), PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) dan PT Sawit Sumbermas TBk (SSMS), yang terbitkan obligasi global di kuartal I-2018 mendatang. Menurut Kepala Riset OSO Sekuritas Riska Afriani, banyak emiten menerbitkan obligasi global karena para emiten mengkhawatirkan penyerapan obligasi dalam negeri kurang maksimal. Best Profit Pekanbaru

Apalagi, dengan tren bunga rendah saat ini, banyak perusahaan yang memilih opsi obligasi.Alhasil, perusahaan menawarkan surat utang global kepada investor asing. "Investor asing akan tertarik jika kupon yang ditawarkan lebih tinggi dari US Treasury Bond yang di kisaran 2%–3%. Kalau dilihat di Indonesia mayoritas kuponnya di atas 5%," kata dia, Selasa. Namun, dengan kupon besar, risiko pembiayaan juga jadi besar. 

Untungnya, tiga emiten dari lima perusahaan yang menerbitkan global bond memiliki pendapatan dalam denominasi dollar AS, yakni TPIA, INDY, dan ABMM. Alhasil, ketiganya terhindar dari risiko beban rugi kurs bila nilai tukar rupiah fluktuatif.Riska menambahkan, porsi debt to equity ratio (DER) perusahaan juga bakal menggemuk. Saat ini, ada dua emiten penerbit obligasi global yang DER-nya tinggi, yaitu ABMM dengan DER 535%, dan INDY dengan DER 141%. Bpf Pekanbaru

Analis Binaartha Parama Sekuritas M. Nafan Aji menambahkan, jika rupiah melemah, tingkat pembayaran bunga obligasi akan terganggu. Ketika beban perusahaan memberat akibat pembayaran bunga, tingkat ekuitas perusahaan juga terganggu. Selain itu, penggunaan dana obligasi juga harus tepat. 

Jika untuk ekspansi tentu bisa jadi katalis positif," kata Nafan. Hal tersebut dilakukan oleh TPIA yang perolehan dananya digunakan untuk ekspansi pabrik. Sedangkan INDY untuk proses akuisisi. Dengan memperlihatkan fundamental perusahaan, Nafan menganalisa ada potensi kenaikan kinerja untuk dua emiten itu di akhir 2017.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini