MSCI makin selektif, Korsel gagal naik kasta ke Developed Market

  MSCI menilai reformasi pasar Korea Selatan (Korsel) belum sepenuhnya mengatasi hambatan aksesibilitas bagi investor global, serta belum cukup kuat mendorong pasar saham bernilai US$4,38 triliun ini menuju kelompok Developed Market. Dalam Tinjauan Klasifikasi Pasar 2026 yang diumumkan pada Selasa (23/6) pukul 20.38 GMT, MSCI mengakui otoritas pasar Koresl telah menempuh berbagai langkah untuk memperbaiki aksesibilitas pasar. MSCI menyebut won Korea masih belum dapat diperdagangkan secara offshore, sementara likuiditas perdagangan valuta asing domestik selama jam perdagangan yang diperpanjang, dinilai belum setara dengan standar Developed Market. “Investor institusi internasional perlu diyakinkan bahwa perdagangan won pada pasar overnight di Korea bisa menyediakan likuiditas yang besar, mendalam, dan konsisten dengan spread bid-ask yang sebanding dengan jam perdagangan reguler seperti mata uang pasar maju lainnya,” tulis MSCI dalam pengumumannya. Baca Juga: Salah promo, ...

Moodys: Ekonomi AS bergantung pada kelompok berpenghasilan tinggi

 

Kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi di Amerika Serikat masih menjadi penopang utama belanja konsumen, seiring pola ekonomi berbentuk K atau K-shaped economy yang dinilai tetap kuat dan semakin menonjol.

Dikutip dari NewsNation, Kepala Ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, mengatakan bahwa warga AS yang termasuk 20% teratas berdasarkan pendapatan, yakni mereka yang berpenghasilan lebih dari US$175.000 per tahun, kini menyumbang hampir 60% dari total pengeluaran pribadi. Estimasi itu merujuk pada data kuartal 1 2026.

Pengeluaran pribadi dalam perhitungan ini mencakup belanja konsumsi, pembayaran bunga atas utang cicilan seperti kredit mobil, serta transfer seperti donasi.

Zandi mencatat pengeluaran kelompok 20% teratas naik 6,5% dalam setahun terakhir, melampaui laju inflasi. Sebaliknya, pengeluaran kelompok 80% terbawah hanya naik 2,6%, sehingga masih tertinggal dari inflasi.

Menurut dia, kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa banyak warga Amerika merasa tidak puas dengan kondisi keuangan mereka maupun situasi ekonomi secara umum, meski sejumlah indikator makro masih terlihat solid.

Istilah K-shaped economy merujuk pada pola pemulihan ekonomi yang tidak merata, ketika kelompok berpendapatan tinggi terus melaju, sementara kelompok lain tertinggal dan kesulitan mengejar. Konsep ini kerap digunakan untuk menjelaskan mengapa gambaran besar ekonomi tidak selalu sejalan dengan tekanan finansial yang dirasakan oleh banyak rumah tangga.

NewsNation mencatat bahwa industri juga mulai menyesuaikan diri dengan pola tersebut. Maskapai penerbangan, misalnya, semakin agresif menawarkan layanan premium karena pelancong berpendapatan tinggi masih aktif membelanjakan uangnya. Sebaliknya, McDonald’s berulang kali menyoroti tekanan terhadap konsumen berpendapatan rendah.

Pola serupa juga terlihat pada konsumsi bahan bakar. Saat perang Iran menekan pasar energi, rumah tangga berpendapatan rendah di AS cenderung mengurangi pembelian bahan bakar, sementara kelompok kaya nyaris tidak mengubah pola belanjanya.

Analisis Moody’s menunjukkan bahwa kesenjangan belanja antara 20% kelompok teratas dan 80% sisanya sebenarnya bukan fenomena baru, tetapi terus melebar dalam beberapa tahun terakhir.

Pada pertengahan 1990-an, kedua kelompok itu menyumbang porsi belanja konsumen yang relatif setara. Namun,  porsi belanja dari kelompok berpendapatan tinggi terus membesar.

Zandi mengakui estimasinya sempat menuai kritik dari sisi metodologi dan mungkin agak melebih-lebihkan kondisi yang ada. Meski begitu, ia menilai data terbaru tetap menunjukkan bahwa ekonomi AS semakin berbentuk K.

Ketergantungan yang makin besar pada rumah tangga kaya dinilai menjadi risiko tersendiri bagi ekonomi AS. Zandi sebelumnya mengingatkan bahwa kondisi ini membuat perekonomian terlalu bergantung pada kelompok kecil masyarakat mapan, yang keputusan belanjanya sangat dipengaruhi oleh kinerja portofolio saham mereka.

Artinya, jika pasar saham melemah dan rumah tangga kaya mulai menahan belanja, ekonomi AS bisa menjadi lebih rentan terhadap perlambatan. (ARF)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)