MSCI makin selektif, Korsel gagal naik kasta ke Developed Market

  MSCI menilai reformasi pasar Korea Selatan (Korsel) belum sepenuhnya mengatasi hambatan aksesibilitas bagi investor global, serta belum cukup kuat mendorong pasar saham bernilai US$4,38 triliun ini menuju kelompok Developed Market. Dalam Tinjauan Klasifikasi Pasar 2026 yang diumumkan pada Selasa (23/6) pukul 20.38 GMT, MSCI mengakui otoritas pasar Koresl telah menempuh berbagai langkah untuk memperbaiki aksesibilitas pasar. MSCI menyebut won Korea masih belum dapat diperdagangkan secara offshore, sementara likuiditas perdagangan valuta asing domestik selama jam perdagangan yang diperpanjang, dinilai belum setara dengan standar Developed Market. “Investor institusi internasional perlu diyakinkan bahwa perdagangan won pada pasar overnight di Korea bisa menyediakan likuiditas yang besar, mendalam, dan konsisten dengan spread bid-ask yang sebanding dengan jam perdagangan reguler seperti mata uang pasar maju lainnya,” tulis MSCI dalam pengumumannya. Baca Juga: Salah promo, ...

Data tunjukkan pemilih Republik lebih gemar investasi kripto

 

Warga Amerika Serikat yang berafiliasi dengan Partai Republik kini tercatat lebih aktif berinvestasi, memperdagangkan, atau menggunakan kripto dibandingkan dengan pemilih Partai Demokrat, seiring makin kuatnya kedekatan Presiden Donald Trump dengan industri aset digital.

Dikutip dari CNBC, survei Pew Research Center yang dirilis pada 8 Jun 2026,i menunjukkan sekitar 22% responden Republik mengaku pernah berinvestasi, berdagang, atau menggunakan kripto seperti bitcoin atau ether. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan 17% responden pemilih Demokrat. Survei dilakukan terhadap 8.512 orang dewasa di AS pada akhir Januari.

CNBC mencatat bahwa sebelum tahun 2026, tingkat kepemilikan kripto di antara kalangan pemilih Demokrat dan Republik relatif setara. Namun, sejak 2021, penggunaan kripto di kubu Republik naik enam poin persentase dari 16%, sementara di kalangan Demokrat nyaris tidak bergerak.

Analis politik AS di Morning Consult, Eli Yokley, menyebut kesenjangan dalam adopsi kripto kini sangat besar. Menurut data Morning Consult, perbedaan itu mulai terlihat sekitar pertengahan 2023 dan makin melebar menjelang pemilu 2024.

Baca Juga: AS gelontorkan dana US$17,5 miliar untuk bangun 10 reaktor nuklir baru

Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan sikap Trump terhadap kripto. Jika pada 2019 Trump sempat menyebut dirinya bukan penggemar kripto dan menilai aset digital rentan disalahgunakan untuk aktivitas ilegal, beberapa tahun kemudian ia justru terjun langsung ke bisnis aset digital.

Trump meluncurkan koleksi NFT pertamanya pada 2022, disusul berbagai produk digital lain seperti NFT tambahan, proyek kripto World Liberty Financial, hingga memecoin $TRUMP dan $MELANIA.

Gedung Putih pada masa jabatan keduanya juga mendorong ambisi menjadikan AS sebagai “ibu kota kripto dunia”, termasuk lewat langkah yang membuka ruang bagi perusahaan kripto untuk menjadi bank.

Yokley menilai sulit memisahkan kenaikan adopsi kripto di kalangan pemilih Republik dari keterlibatan keluarga Trump dalam industri tersebut. “Tidak ada Obama coin. Yang ada Trump coin dan Melania coin,” ujarnya.

Head of government relations Solana Policy Institute, Colin McLaren, menilai kripto sejak awal memang memiliki corak libertarian, dengan kecenderungan skeptis terhadap kekuasaan terpusat dan campur tangan pemerintah. Menurut dia, DNA ideologis seperti itu lebih selaras dengan insting politik kanan, sehingga tidak mengejutkan jika kepemilikan kripto di kalangan Republik meningkat penggunaan kripto semakin luas.

Sementara itu, Direktur Riset Public Citizen Rick Claypool menilai meski sektor kripto kerap mengklaim bersifat bipartisan, prioritas utamanya seperti deregulasi dan pelonggaran penegakan aturan selama ini lebih dekat dengan kebijakan yang ramah korporasi dan lebih sering diasosiasikan dengan Partai Republik.

Meski demikian, para analis menilai politik bukan satu-satunya faktor yang menjelaskan perbedaan adopsi kripto. Faktor demografis seperti usia dan gender juga berperan besar.

Morning Consult mencatat sekitar 74% trader kripto adalah laki-laki. Yokley mengatakan pendekatan perempuan yang cenderung lebih hati-hati terhadap investasi spekulatif membantu menjelaskan kesenjangan tersebut. Menurut dia, trader kripto umumnya memiliki tingkat kepercayaan diri konsumen dan toleransi risiko yang lebih tinggi dibanding populasi umum, dan kecenderungan itu sangat didominasi laki-laki.

Kesenjangan ini sangat terlihat pada kelompok usia muda. Dari 2022 hingga 2026, laki-laki di bawah usia 45 tahun tercatat memperdagangkan kripto sekitar dua kali lebih sering dibanding perempuan pada kelompok usia yang sama, yakni sekitar 38% hingga 42% berbanding 13% hingga 16%.

Menurut CNBC, kecenderungan investor muda masuk ke instrumen spekulatif seperti meme stock, ETF leverage, kripto, taruhan olahraga, dan prediction market juga sering dikaitkan dengan fenomena yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai financial nihilism.

Yokley menilai kesenjangan gender dalam adopsi kripto bahkan lebih besar dibandingkan jurang politik antara Republik dan Demokrat. (ARF)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)