Biaya cas mobil listrik di Irlandia kini setara bensin dan diesel

  Biaya pengisian mobil listrik di stasiun pengisian umum di Irlandia kini disebut sudah setara dengan biaya penggunaan mobil berbahan bakar bensin atau diesel, setelah operator pengisian daya kembali menaikkan tarif di tengah gejolak pasar energi. Dikutip dari Extra.ie, tarif pengisian publik untuk mobil listrik di Irlandia kini menjadi yang ketiga tertinggi di Eropa. Pemilik kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) juga menghadapi kenaikan harga di titik pengisian umum, dengan operator Ionity menyebut konflik antara Amerika Serikat dan Iran sebagai salah satu pemicu lonjakan biaya. Ionity menaikkan tarif pengisian di gerai Circle K dari 81,5 sen euro per kWh menjadi 85 sen euro per kWh, atau naik sekitar 4%. Kenaikan ini membuat biaya pengisian daya di jaringan tersebut setidaknya setara dengan ongkos penggunaan bensin atau diesel jika dihitung per kilometer. Kenaikan tarif itu memicu kekhawatiran bahwa minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik akan semakin ...

Eks petinggi BOJ peringatkan yen bisa sentuh level terlemah sejak 1986

 

Mantan pembuat kebijakan Bank of Japan (BOJ) Sayuri Shirai memperkirakan yen Jepang bisa melemah hingga 165 per dolar Amerika Serikat jika Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga tahun ini, di tengah masih tingginya selisih suku bunga AS dan Jepang serta keraguan pasar terhadap peluang intervensi lanjutan dari Tokyo.

Dikutip dari Reuters, Shirai yang kini menjadi profesor di Keio University mengatakan nilai tukar dolar AS terhadap yen bisa bergerak secara bertahap ke kisaran 163 hingga 165. Menurut dia, tren pelemahan yen saat ini sulit dibalik, terutama karena Kementerian Keuangan Jepang dan BOJ sejauh ini membiarkan kurs bergerak di atas level 160 sejak awal Juni 2026.

Yen pada Senin (22/6) sempat menyentuh level terendah dalam dua tahun terakhir di angka 161,92 per dolar AS dan terakhir diperdagangkan di angka 161,45. Jika melemah ke 165 per dolar AS, posisi itu akan menjadi level terlemah yen sejak 1986.

Data terbaru juga menunjukkan posisi spekulatif net short terhadap yen naik ke level tertinggi sejak Juli 2024, yakni 150.132 kontrak.

Kenaikan suku bunga BOJ sebesar 25 basis poin ke level 1%, tertinggi sejak 1995, serta intervensi valas dalam jumlah besar sejauh ini belum banyak membantu penguatan yen.

Hal itu karena suku bunga kebijakan Jepang masih jauh di bawah kisaran suku bunga The Fed di level 3,50%-3,75%, sehingga selisih suku bunga kedua negara tetap menekan mata uang Jepang tersebut.

Prospek pelemahan yen juga diperkuat oleh perubahan sikap The Fed yang lebih hawkish di bawah Ketua baru, Kevin Warsh. Pasar kini memperkirakan sekitar dua kali kenaikan suku bunga The Fed masing-masing sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun, dengan peluang sekitar 75% untuk kenaikan pertama pada September.

Sejumlah bank investasi seperti BofA Global Research dan Deutsche Bank juga telah meninggalkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan suku bunga tetap, dan kini memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini.

Shirai memperkirakan BOJ masih akan menaikkan suku bunga seperempat poin lagi pada Oktober atau Desember tahun ini. Namun, menurut dia, penurunan harga minyak belakangan ini belum cukup membantu menopang yen.

Ia menambahkan pasar saat ini memperkirakan suku bunga BOJ akan naik lagi ke 1,5% tahun depan, yang menurutnya kemungkinan menjadi batas maksimum yang realistis bagi bank sentral Jepang.

Di sisi lain, Jesper Koll, Global Ambassador Monex Group Japan, memproyeksikan suku bunga terminal Jepang bisa mencapai sekitar 3% pada awal 2028. Menurut dia, berdasarkan pendekatan Taylor Rule, dengan potensi pertumbuhan ekonomi Jepang 1% dan target inflasi 2%, suku bunga kebijakan netral Jepang seharusnya berada di kisaran 3%.

Koll menilai pelemahan yen yang terus berlanjut menunjukkan investor ritel maupun profesional meyakini BOJ masih tertinggal dalam merespons perkembangan ekonomi dan inflasi.

Untuk menahan pelemahan yen, Tokyo tercatat telah menggelontorkan rekor 11,7 triliun yen atau sekitar US$72,44 miliar untuk intervensi di pasar valuta asing pada akhir April hingga awal Mei 2026.

Namun, Shirai mengatakan belum jelas apakah Kementerian Keuangan Jepang bisa kembali melakukan intervensi, mengingat Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memberi sinyal bahwa BOJ seharusnya menaikkan suku bunga untuk menahan depresiasi yen.

Menurut Shirai, intervensi valas biasanya dilakukan melalui penjualan surat utang pemerintah AS yang dimiliki Jepang. Karena itu, langkah tersebut berpotensi memengaruhi imbal hasil obligasi AS, sesuatu yang kemungkinan tidak diinginkan oleh Washington.

Selain faktor moneter, aset Jepang juga tertekan oleh kekhawatiran fiskal. Jepang tengah mengarah pada pemangkasan sementara pajak konsumsi untuk makanan menjadi 1% dari 8% tanpa sinyal yang jelas mengenai sumber pendanaannya.

Rencana belanja Perdana Menteri Sanae Takaichi juga membuat investor tetap waspada, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ, risiko inflasi, dan kekhawatiran fiskal terus menjaga imbal hasil obligasi pemerintah Jepang di level tinggi.

Shirai mengatakan pasar memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun bisa naik ke 3% atau lebih. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban pembayaran bunga pemerintah Jepang secara signifikan. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun terakhir tercatat di level 2,660%. (ARF)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)