Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Saham AS Dekati Rekor Tertinggi, Mengapa Investor Harus Waspada?

 

Pergerakan pasar saham Amerika Serikat (AS) di penghujung Mei 2026 menunjukkan dinamika yang menarik. Setelah sempat mengalami penurunan, harga saham dengan cepat berbalik arah dan bergerak menguat. Saat ini, indeks S&P 500 bahkan kembali bertengger mendekati rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high).

Fenomena ini memicu perdebatan di kalangan analis, sebagaimana dikutip laman The Motley Fool pada Jumat (29/5/2026). Apakah pasar saham AS sedang membuktikan istilah lama pasar selalu merangkak naik di tengah kekhawatiran (climbs a wall of worry), atau justru para investor mulai mengabaikan risiko-risiko fundamental yang mengintai di bawah permukaan?

Bagi sebagian besar investor jangka panjang, performa pasar yang tampak tangguh di tengah ketidakpastian ini justru menjadi sinyal untuk lebih berhati-hati.

Menggunakan instrumen seperti Vanguard S&P 500 Index ETF (VOO) adalah cara termudah dan berbiaya rendah untuk mengukur pasar. Indeks yang mencakup sekitar 500 perusahaan raksasa berbobot ekonomi besar di AS ini bahkan selalu disarankan oleh investor legendaris Warren Buffett.

Namun, ada sebuah anomali menarik yang patut dicermati. Sebelum Buffett pensiun dari Berkshire Hathaway pada akhir tahun 2025 lalu, ia membiarkan tumpukan uang tunai di neraca perusahaannya terus membukit. Tren ini dilanjutkan oleh penerusnya, Greg Abel, yang kini mencatat kepemilikan kas jumbo hingga hampir US$ 400 miliar (sekitar Rp 7.146 triliun).

Aksi genggam uang tunai oleh raksasa investasi sekelas Berkshire Hathaway mengindikasikan hampir tidak ada saham menarik yang cukup murah untuk dibeli saat ini. Faktanya, rasio harga terhadap pendapatan (Price-to-Earnings Ratio / P/E) indeks S&P 500 saat ini telah menyentuh 27,4x, jauh melampaui rata-rata historisnya yang berada di kisaran 19x.

Geopolitik, Energi, dan Ancaman Resesi Global

Selain masalah valuasi yang mahal, investor saat ini dipaksa mencerna rentetan sentimen negatif global, di antaranya:

- Konflik Timur Tengah: Ketegangan geopolitik terus memicu volatilitas tinggi pada indeks S&P 500.

- Krisis Energi: Konflik tersebut telah memangkas pasokan minyak dunia dan mendongkrak harga energi. CEO Chevron Mike Wirth bahkan memperingatkan pasar belum sepenuhnya memperhitungkan dampak gangguan pasokan ini secara jangka panjang.

- Inflasi dan Tekanan Konsumen: Tingginya biaya energi berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dan memicu resesi global. Sinyal pelemahan daya beli bahkan sudah diwanti-wanti oleh Walmart. Raksasa ritel terbesar dunia tersebut menyatakan prospek bisnis mereka kini dipenuhi ketidakpastian karena konsumen mulai membatasi pengeluaran.

"Jika perusahaan ritel terbesar di dunia mulai khawatir terhadap kondisi ekonomi dan dampaknya pada pembeli, maka Anda pun sudah sepatutnya waspada," kutip The Motley Fool.

Sinyal Akhir Mei: Waktunya Menahan Diri

Tidak ada yang tahu pasti ke mana arah pasar saham selanjutnya. Namun, dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik, ancaman ekonomi, dan valuasi saham yang sudah sangat mahal, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengambil keputusan investasi yang agresif.

Mengikuti langkah Berkshire Hathaway dengan menahan diri dan mengumpulkan uang tunai (cash) bisa menjadi strategi yang bijak, sembari menunggu pasar terkoreksi ke level valuasi yang lebih masuk akal.

Indeks S&P 500 merupakan barometer utama kesehatan pasar modal global yang pergerakannya sering kali didorong oleh performa perusahaan-perusahaan teknologi dan ritel raksasa.

Sepanjang beberapa tahun terakhir, indeks ini terus mencetak rekor baru, didorong oleh spekulasi kebijakan suku bunga dan sentimen teknologi. Namun, kenaikan yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan laba riil sering kali menciptakan risiko gelembung aset (bubble).

Di sisi lain, strategi mengumpulkan uang tunai yang dilakukan oleh Berkshire Hathaway selalu menjadi acuan penting bagi investor global.

Sepanjang sejarahnya, perusahaan yang didirikan Warren Buffett ini dikenal sangat disiplin dalam memegang prinsip value investing—hanya membeli saham berkinerja bagus saat harganya diskon. Keputusan mereka untuk memegang kas hingga US$ 400 miliar pada 2026 menjadi indikator kuat pasar saham secara makro tengah mengalami overvalued (kemahalan) dan berisiko tinggi terhadap koreksi mendadak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)