Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Cek Rekomendasi Saham Telkom Indonesia (TLKM) Usai Rilis Kinerja 2025

 

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan kinerja keuangan yang kurang menggembirakan di sepanjang 2025. Di mana, pendapatan dan laba bersih TLKM turun di tahun lalu, dipengaruhi oleh penyajian ulang dan percepatan depresiasi yang dilakukan Telkom.

Melansir laporan keuangan yang dirilis pada Selasa (12/5), TLKM membukukan pendapatan sebesar Rp 145,74 triliun. Ini turun sekitar 2,15% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 149,96 triliun. 

Adapun laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Telkom menyusut 20,48% YoY menjadi Rp 17,81 triliun di sepanjang 2025 dari raihan 2024 yang mencapai Rp 22,40 triliun. 

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menjelaskan kinerja Telkom tahun buku 2025 lebih banyak dipengaruhi faktor non-operasional seperti percepatan depresiasi aset dan penyesuaian klasifikasi aset tertentu. 

“Sehingga dampaknya cenderung bersifat sementara terhadap laba bersih. Dari sisi operasional, bisnis inti Telkom masih relatif solid, terutama data dan broadband,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (12/5/2026). 

Dalam jangka panjang, Sukarno langkah ini justru bisa membuat struktur aset dan efisiensi perseroan lebih sehat. Dia menilai masih ada potensi perbaikan pendapatan untuk sepanjang 2026. 

“Potensi perbaikan top line masih terbuka didorong pertumbuhan data, IndiHome, dan monetisasi bisnis digital meski kemungkinan masih bertahap,” katanya. 

Lebih lanjut, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan beli TLKM dengan target harga di Rp 4.000 per saham. Pada akhir perdagangan Selasa (12/5), TLKM parkir di level Rp 2.950 per saham. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini