Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Bursa Asia Naik Selasa (12/5) Pagi, Meski Trump Sebut Gencatan Senjata Iran Kritis

 

Mayoritas bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Selasa (12/5/2026), meski muncul kembali keraguan terhadap keberlangsungan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Sentimen pasar sempat dibayangi pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “on massive life support” atau berada dalam kondisi sangat kritis.

Trump pada Senin (11/5/2026) mempertanyakan kelangsungan gencatan senjata setelah menilai respons Iran terhadap proposal perdamaian Washington tidak dapat diterima.

“Saya akan mengatakan gencatan senjata berada dalam kondisi sangat kritis, seperti pasien yang hanya memiliki peluang hidup 1%,” ujar Trump.

Meski demikian, pelaku pasar tampak tetap optimistis terhadap prospek pasar saham global.

Melasir data CNBC, di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 0,2%, sementara indeks TOPIX menguat 0,54%.

Bursa Korea Selatan mencatat penguatan lebih besar, dengan indeks KOSPI melonjak lebih dari 2% setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi baru. Sementara indeks saham kecil KOSDAQ naik 0,62%.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 bergerak relatif datar.

Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Index tercatat di level 26.421, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 26.406,84.

Chief Investment Officer GammaRoad Capital Partners Jordan Rizzuto menilai, pasar saat ini berada dalam kondisi “show me market”, yakni investor cenderung tidak lagi bereaksi berlebihan terhadap risiko geopolitik kecuali benar-benar berdampak pada fundamental ekonomi maupun kinerja korporasi.

Menurut Rizzuto, setelah melewati pandemi, lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga agresif, hingga kekhawatiran perang tarif dalam beberapa tahun terakhir, investor kini terbiasa memanfaatkan pelemahan pasar sebagai peluang beli.

Ia juga menyoroti faktor struktural yang turut menopang reli pasar, seperti aliran dana ritel ke leveraged exchange traded fund (ETF) dan call options.

Kondisi tersebut mendorong dealer membeli saham acuan sebagai lindung nilai, sehingga memperkuat strategi hedging dan menambah perlindungan terhadap risiko penurunan pasar.

Sementara itu, pada perdagangan Senin (11/5/2026) waktu AS, indeks-indeks utama Wall Street kembali ditutup menguat.

Indeks S&P 500 naik 0,19% ke level 7.412,84 dan indeks Nasdaq Composite menguat 0,10% ke posisi 26.274,13. Kedua indeks tersebut kembali mencetak rekor tertinggi intraday maupun penutupan baru.

Adapun indeks Dow Jones Industrial Average naik 95,31 poin atau 0,19% ke level 49.704,47.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini