Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Kata Pengamat Soal Pertemuan Anies Baswedan dengan 3 Ketum Parpol

 


Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menilai pertemuan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan tiga Ketua Umum (Ketum) partai politik (parpol) di acara pernikahan anak dari kader Partai NasDem Sugeng Prawoto membicarakan banyak hal tak terkecuali pemilihan presiden (pilpres) 2024.

"Ya saya melihatnya itu kan pertemuan internal ya di acara pernikahan pimpinan Komisi ya di DPR RI ya tentu itu merupakan bagian dari silaturahmi yang membicarakan banyak hal," kata Ujang dalam keterangannya, Selasa (20/9/2022).

Diketahui, pada acara pernikahan yang dihelat Minggu malam 18 September 2022 tersebut, Anies bertemu dengan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu, Ketum Partai NasDem Surya Paloh serta Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.

Menurut Ujang, salah satu yang menjadi pembahasan Anies bersama tiga Ketum parpol tak jauh dari soal pemilihan presiden (pilpres) 2024. Pertemuan itu, kata Ujang juga menjadi berkah bagi Anies.

"Salah satunya ya itu tadi, ngobrol ngalor ngidul, soal koalisi, soal pencapresan, dan lain-lain. Ya itu bisa jadi pertemuan berkah ya. Berkah bisa bersilahturami dengan Ketum partai koalisi yang indikasinya bisa saja mendukung Anies di kemudian hari, kan seperti itu," jelas Anies.

Pasalnya, Ujang berujar ketiga Ketum parpol tak punya pilihan selain berkoalisi apabila hendak mengusung Anies sebagai calon presiden (capres) maupun calon wakil presiden (cawapres) di kontestasi pemilihan umum (pemilu) 2024 mendatang.

"Karena kan tidak ada pilihan bagi ketua-ketua partai itu. Karena kan kalau mereka tidak bergabung, engga bisa karena kalau hanya dua partai saja kira-kira NasDem dengan PKS engga bisa, karena kurang 20 persen," terang Ujang.

"Kalau NasDem dengan Demokrat saja tidak bisa juga. Jadi tiga-tiganya memang harus berkoalisi jika ingin mengusung Anies," lanjut dia.

Ujang memaparkan setidaknya ada dua hal yang memang diperhatikan oleh ketiga Ketum parpol tersebut jika ingin mengusung Anies sebagai capres dan cawapres. Pertama, kata dia memperhatikan elektabilitas tokoh tersebut. Anies pun potensial dalam hal itu.

"Kalau ingin mengusung capres cawapres kan rumusnya memang harus memiliki elektabilitas tinggi. Anies ini kan lumayan elektabilitasnya, masuk tiga besar dia tinggi dalam konteks sebagai capres artinya punya peluang dicapreskan oleh ketiga partai itu," kata dia.

Lebih lanjut, Ujang menyebut alasan kedua ialah terkait dengan efek ekor jas yang dapat diberikan Anies kepada masing-masing parpol yang mengusung. Anies disebut juga mampu memberikan efek ekor jas pada ketiga partai tersebut.

"Nah itu kemungkinan bisa membawa dampak efek ekor jas bagi ketiga partai. Misalkan bagi NasDem, Anies punya efek ekor jas yang bagus, bagi PKS juga sama," ujarnya.

Kendati demikian, Ujang menyampaikan kemungkinan koalisi antar ketiga partai masih sangat dinamis. Saat ini, kata Ujang semua kemungkinan terkait koalisi dapat saja terjadi.

"Tapi semuanya masih cair masih dinamis kita lihat perkembangannya ke depan seperti apa," ucap dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini