Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

MEJA Siap Akuisisi 45% Saham Trimitra Coal Perkasa Senilai Rp 1,6 Triliun

 

PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) memantapkan langkah ekspansi ke sektor pertambangan melalui rencana akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP).

Nilai transaksi aksi korporasi ini diperkirakan mencapai Rp 1,6 triliun. Angka tersebut setara sekitar 15 kali lipat dari total aset MEJA per Juni 2025 yang tercatat sebesar Rp 107,08 miliar.

Direktur Utama PT Harta Djaya Karya Tbk Richie Adrian Hartanto menjelaskan bahwa nilai akuisisi Rp 1,6 triliun merupakan kesepakatan awal yang merujuk pada transaksi serupa dengan pihak lain sebelumnya.

Meski nilainya jauh lebih besar dibandingkan aset perseroan saat ini, Richie menegaskan bahwa angka tersebut masih berpotensi berubah, menyesuaikan hasil penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang saat ini tengah dalam proses penunjukan.

“Kami meyakini akuisisi 45% kepemilikan saham PT Trimitra Coal Perkasa akan memberikan manfaat valuasi yang konkret terhadap MEJA dan para pemegang saham,” tulis Richie dalam keterbukaan informasi dikutip Kamis (19/2/2026)

Transaksi ini akan dilakukan melalui mekanisme share swap atau inbreng saham secara bertahap, dengan pelaksanaan yang disesuaikan dengan perkembangan produksi TCP.

“Tahap pertama akuisisi ditargetkan terlaksana pada kuartal III tahun 2026,” ujarnya.

Richie juga memastikan bahwa transaksi tersebut tidak akan mengubah struktur pengendali perusahaan. Pemegang saham pengendali MEJA saat ini tetap akan memegang kendali setelah proses akuisisi rampung.

Sebagai informasi, PT Trimitra Coal Perkasa memiliki konsesi tambang seluas 11.640 hektare dengan estimasi sumber daya batubara tertambang (mineable coal resources) sekitar 693,7 juta ton, berdasarkan laporan konsultan independen Faan Grobelaar & Associates.

TCP ditargetkan mulai berproduksi pada 2026 dan telah memiliki pembeli siaga, yakni Argo Energy Pte. Ltd., yang merupakan bagian dari Banpu Group, dengan kontrak pembelian selama satu tahun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini