Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Wall St Bergerak Fluktuatif, Isu AI hingga Perundingan Nuklir AS–Iran Bayangi Pasar

 

Saham-saham di Wall Street bergerak naik-turun pada Selasa (17/2/2026) dan akhirnya ditutup nyaris tidak berubah.

Seiring investor menimbang berbagai sentimen mulai dari belanja besar untuk kecerdasan buatan (AI), potensi disrupsi ekonomi akibat AI, hingga perkembangan positif dalam perundingan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pelaku pasar memanfaatkan pelemahan saham teknologi untuk kembali masuk (buy the dip).

Saham sektor teknologi dan chip yang sempat tertekan di awal sesi berhasil berbalik menguat menjelang penutupan.

Indeks-indeks utama AS ditutup relatif datar. Saham Norwegian Cruise Line dan Southwest Airlines membantu mengangkat sektor transportasi.

Di sektor teknologi, Apple dan Broadcom menjadi penopang utama.

Secara sektoral, properti, keuangan, transportasi Dow, dan maskapai penerbangan mencatat kinerja lebih baik.

Sebaliknya, saham energi, kebutuhan pokok konsumen, dan perumahan menjadi yang paling tertinggal.

Dolar Menguat, Imbal Hasil Obligasi Campuran

Di pasar valuta asing, dolar AS menguat di tengah ketegangan geopolitik. Euro mencatat pelemahan untuk enam sesi berturut-turut terhadap dolar, sementara yen melemah untuk hari kedua setelah sebelumnya mengakhiri tren penguatan lima hari.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak campuran, mencerminkan spekulasi investor terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam beberapa bulan ke depan.

Harga Minyak dan Emas Turun

Meredanya kekhawatiran geopolitik turut mengurangi permintaan aset safe haven. Harga minyak mentah dan emas pun melemah karena kekhawatiran gangguan pasokan mereda.

Secara keseluruhan, pasar masih berada dalam fase penuh kehati-hatian. Investor terus memantau dampak jangka panjang investasi besar di sektor AI terhadap profitabilitas perusahaan, perkembangan hubungan diplomatik AS–Iran, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS yang akan menjadi penentu sentimen berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini