Penerbitan Obligasi ESG Melejit 146% di 2025 Tembus Rp 35,56 Triliun

  Tingginya minat investor akan aset berbasis Environmental, Social, and Governance ( ESG ) membuat lebih banyak perusahaan yang menerbitkan obligasi berbasis segmen ESG. Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), pada tahun 2025 penerbitan surat utang ESG mencapai Rp 35,56 triliun.  Realisasi penerbitan surat utang ESG sepanjang tahun lalu menurut data Pefindo meningkatkan 146% dibanding penerbitan di tahun 2024 yang hanya sebesar Rp 14,47 triliun. Jumlah emiten yang melakukan penerbitan tersebut terdiri dari 10 perusahaan.  Secara sektoral, sebagian besar nilai penerbitan Surat Utang ESG masih berasal dari sektor perbankan dengan persentase 71,1% dari total nilai penerbitan. Kemudian disusul dari sektor Non-Multifinance Financing 20,4% serta Special Purpose Financial Institution 7,03%. Adapun sektor property hanya memiliki share nilai penerbitan sebesar 1,4% dari total nilai penerbitan. Menurut Pefindo, penerbitan Surat Utang ESG baru mulai sema...

Wall St Bergerak Fluktuatif, Isu AI hingga Perundingan Nuklir AS–Iran Bayangi Pasar

 

Saham-saham di Wall Street bergerak naik-turun pada Selasa (17/2/2026) dan akhirnya ditutup nyaris tidak berubah.

Seiring investor menimbang berbagai sentimen mulai dari belanja besar untuk kecerdasan buatan (AI), potensi disrupsi ekonomi akibat AI, hingga perkembangan positif dalam perundingan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pelaku pasar memanfaatkan pelemahan saham teknologi untuk kembali masuk (buy the dip).

Saham sektor teknologi dan chip yang sempat tertekan di awal sesi berhasil berbalik menguat menjelang penutupan.

Indeks-indeks utama AS ditutup relatif datar. Saham Norwegian Cruise Line dan Southwest Airlines membantu mengangkat sektor transportasi.

Di sektor teknologi, Apple dan Broadcom menjadi penopang utama.

Secara sektoral, properti, keuangan, transportasi Dow, dan maskapai penerbangan mencatat kinerja lebih baik.

Sebaliknya, saham energi, kebutuhan pokok konsumen, dan perumahan menjadi yang paling tertinggal.

Dolar Menguat, Imbal Hasil Obligasi Campuran

Di pasar valuta asing, dolar AS menguat di tengah ketegangan geopolitik. Euro mencatat pelemahan untuk enam sesi berturut-turut terhadap dolar, sementara yen melemah untuk hari kedua setelah sebelumnya mengakhiri tren penguatan lima hari.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak campuran, mencerminkan spekulasi investor terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam beberapa bulan ke depan.

Harga Minyak dan Emas Turun

Meredanya kekhawatiran geopolitik turut mengurangi permintaan aset safe haven. Harga minyak mentah dan emas pun melemah karena kekhawatiran gangguan pasokan mereda.

Secara keseluruhan, pasar masih berada dalam fase penuh kehati-hatian. Investor terus memantau dampak jangka panjang investasi besar di sektor AI terhadap profitabilitas perusahaan, perkembangan hubungan diplomatik AS–Iran, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS yang akan menjadi penentu sentimen berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025