MEJA Siap Akuisisi 45% Saham Trimitra Coal Perkasa Senilai Rp 1,6 Triliun

  PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) memantapkan langkah ekspansi ke sektor pertambangan melalui rencana akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP). Nilai transaksi aksi korporasi ini diperkirakan mencapai Rp 1,6 triliun . Angka tersebut setara sekitar 15 kali lipat dari total aset MEJA per Juni 2025 yang tercatat sebesar Rp 107,08 miliar . Direktur Utama PT Harta Djaya Karya Tbk Richie Adrian Hartanto menjelaskan bahwa nilai akuisisi Rp 1,6 triliun merupakan kesepakatan awal yang merujuk pada transaksi serupa dengan pihak lain sebelumnya. Meski nilainya jauh lebih besar dibandingkan aset perseroan saat ini, Richie menegaskan bahwa angka tersebut masih berpotensi berubah, menyesuaikan hasil penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang saat ini tengah dalam proses penunjukan. “Kami meyakini akuisisi 45% kepemilikan saham PT Trimitra Coal Perkasa akan memberikan manfaat valuasi yang konkret terhadap MEJA dan para pemegang saham,” tulis Richie dalam keterbukaan...

Harga Saham Blue Chip Ini Terus Melonjak Usai Anjlok, Akankah Jadi 'Game Changer'?

 

Harga saham blue chip PT United Tractors Tbk (UNTR) terus mendaki belakangan ini usai anjlok dalam. Meski demikian, analis menilai saham milik Astra Group ini memiliki prospek cerah untuk investasi.

Harga saham UNTR pada perdagangan Rabu 18 Februari 2026 ditutup di level 29.975 naik 575 poin atau 1,96% dibandingkan sehari sebelumnya. Selama perdagangan lima hari terakhir, harga saham UNTR terakumulasi naik 2.650 poin atau 9,70%. 

Meski demikian, harga saham UNTR masih melemah 1.525 poin atau 4,84% dalam sebulan terakhir. 

Menurut analis, saham UNTR memiliki prospek investasi yang bagus karena kinerja periode mendatang yang menjanjikan di tengah polemik izin tambang yang sempat membayangi. Ekspansi agresif melalui akuisisi Tambang Emas Doup menjadi salah satu katalis jangka panjang bagi emiten Grup Astra ini.

Pada 11 Februari 2026, UNTR mengumumkan bahwa anak usahanya, PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) dan PT Energia Prima Nusantara (EPN), telah menyelesaikan transaksi akuisisi Tambang Emas Doup yang sebelumnya dikelola entitas usaha PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Transaksi dilakukan melalui Perjanjian Jual Beli Bersyarat antara UNTR melalui DTN dengan PT J Resources Nusantara (JRN) untuk pembelian 99,99996% saham PT Arafura Surya Alam (ASA) pada September 2025. 

Pada saat yang sama, melalui EPN, UNTR juga menandatangani perjanjian pembelian 0,00004% saham ASA serta 0,2% saham PT Mulia Bumi Persada (MBP) dari Jimmy Budiarto.

Nilai transaksi dan rencana produksi

Total enterprise value dalam transaksi ini mencapai US$ 540 juta. Nilai tersebut mencakup pembelian saham serta pengambilalihan utang pemegang saham JRN kepada ASA. Nilai bersih akhir masih akan disesuaikan dengan pos neraca ASA pada saat penyelesaian transaksi.

Manajemen UNTR sebelumnya menyampaikan bahwa setelah akuisisi rampung, perusahaan akan membangun fasilitas pemrosesan dan infrastruktur pendukung di Tambang Emas Doup. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan bijih (ore) hingga 3 juta ton per tahun dengan estimasi produksi emas sebesar 140.000–155.000 ons troi per tahun.

Targetnya, tambang ini mulai berproduksi pada 2028.

Prospek jangka panjang dan risiko proyek

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai akuisisi ini merupakan langkah strategis dan krusial bagi UNTR dalam jangka panjang.

Penambahan cadangan emas dinilai dapat meningkatkan kontribusi terhadap bottom line ketika tambang beroperasi penuh. Namun, UNTR tetap perlu mewaspadai risiko eksekusi proyek, terutama fluktuasi biaya konstruksi dan kebutuhan belanja modal (capex) yang besar.

Pengembangan tambang dari tahap development hingga produksi komersial juga memerlukan pengelolaan lingkungan yang ketat guna meminimalkan risiko ESG yang sensitif di industri pertambangan.

Kinerja 2026 relatif stabil

Wafi memperkirakan kinerja UNTR pada 2026 akan relatif stabil dan cenderung moderat. Polemik pencabutan izin Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources dinilai sudah priced-in oleh pasar, sehingga dampaknya tidak lagi signifikan seperti sebelumnya.

Meski demikian, pemulihan penuh tetap bergantung pada kelancaran operasional fasilitas tailing Agincourt.

Rekomendasi saham UNTR

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai fundamental UNTR masih solid. Diversifikasi ke emas berpotensi menjadi game changer bagi kelangsungan bisnis UNTR di tengah dinamika batubara.

UNTR juga berpotensi diuntungkan oleh tren kenaikan harga emas global serta pemulihan harga batubara yang mulai memasuki fase bullish consolidation.

Nafan merekomendasikan add saham UNTR dengan target harga Rp 30.950 per saham. Sementara itu, Wafi menyarankan hold dengan target harga Rp 30.000 per saham.

Dengan kombinasi diversifikasi emas dan stabilisasi bisnis batubara, saham UNTR dinilai masih memiliki prospek menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025