Menteri Ara dan Nusron Sepakat Sertifikasi Gratis untuk Rumah MBR

  Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sepakat menetapkan sertifikasi sektor perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) secara gratis. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Menteri PKP Maruarar Sirait dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Ruang Rapat Menteri ATR/BPN, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ara juga mengapresiasi terobosan Kementerian ATR/BPN dalam menghadirkan program sertifikasi gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Terobosan kolaborasi yang juga luar biasa dengan Pak Nusron adalah sertipikasi gratis bagi MBR. Itu merupakan karya dan dukungan yang luar biasa dari Menteri ATR/BPN bagi rakyat kecil," ujar dia dikutip dari keterangan resmi. Menteri Ara menuturkan, sinergi tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena tidak hanya memberikan kepastian...

Harga Saham Blue Chip Ini Terus Melonjak Usai Anjlok, Akankah Jadi 'Game Changer'?

 

Harga saham blue chip PT United Tractors Tbk (UNTR) terus mendaki belakangan ini usai anjlok dalam. Meski demikian, analis menilai saham milik Astra Group ini memiliki prospek cerah untuk investasi.

Harga saham UNTR pada perdagangan Rabu 18 Februari 2026 ditutup di level 29.975 naik 575 poin atau 1,96% dibandingkan sehari sebelumnya. Selama perdagangan lima hari terakhir, harga saham UNTR terakumulasi naik 2.650 poin atau 9,70%. 

Meski demikian, harga saham UNTR masih melemah 1.525 poin atau 4,84% dalam sebulan terakhir. 

Menurut analis, saham UNTR memiliki prospek investasi yang bagus karena kinerja periode mendatang yang menjanjikan di tengah polemik izin tambang yang sempat membayangi. Ekspansi agresif melalui akuisisi Tambang Emas Doup menjadi salah satu katalis jangka panjang bagi emiten Grup Astra ini.

Pada 11 Februari 2026, UNTR mengumumkan bahwa anak usahanya, PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) dan PT Energia Prima Nusantara (EPN), telah menyelesaikan transaksi akuisisi Tambang Emas Doup yang sebelumnya dikelola entitas usaha PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Transaksi dilakukan melalui Perjanjian Jual Beli Bersyarat antara UNTR melalui DTN dengan PT J Resources Nusantara (JRN) untuk pembelian 99,99996% saham PT Arafura Surya Alam (ASA) pada September 2025. 

Pada saat yang sama, melalui EPN, UNTR juga menandatangani perjanjian pembelian 0,00004% saham ASA serta 0,2% saham PT Mulia Bumi Persada (MBP) dari Jimmy Budiarto.

Nilai transaksi dan rencana produksi

Total enterprise value dalam transaksi ini mencapai US$ 540 juta. Nilai tersebut mencakup pembelian saham serta pengambilalihan utang pemegang saham JRN kepada ASA. Nilai bersih akhir masih akan disesuaikan dengan pos neraca ASA pada saat penyelesaian transaksi.

Manajemen UNTR sebelumnya menyampaikan bahwa setelah akuisisi rampung, perusahaan akan membangun fasilitas pemrosesan dan infrastruktur pendukung di Tambang Emas Doup. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan bijih (ore) hingga 3 juta ton per tahun dengan estimasi produksi emas sebesar 140.000–155.000 ons troi per tahun.

Targetnya, tambang ini mulai berproduksi pada 2028.

Prospek jangka panjang dan risiko proyek

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai akuisisi ini merupakan langkah strategis dan krusial bagi UNTR dalam jangka panjang.

Penambahan cadangan emas dinilai dapat meningkatkan kontribusi terhadap bottom line ketika tambang beroperasi penuh. Namun, UNTR tetap perlu mewaspadai risiko eksekusi proyek, terutama fluktuasi biaya konstruksi dan kebutuhan belanja modal (capex) yang besar.

Pengembangan tambang dari tahap development hingga produksi komersial juga memerlukan pengelolaan lingkungan yang ketat guna meminimalkan risiko ESG yang sensitif di industri pertambangan.

Kinerja 2026 relatif stabil

Wafi memperkirakan kinerja UNTR pada 2026 akan relatif stabil dan cenderung moderat. Polemik pencabutan izin Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources dinilai sudah priced-in oleh pasar, sehingga dampaknya tidak lagi signifikan seperti sebelumnya.

Meski demikian, pemulihan penuh tetap bergantung pada kelancaran operasional fasilitas tailing Agincourt.

Rekomendasi saham UNTR

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai fundamental UNTR masih solid. Diversifikasi ke emas berpotensi menjadi game changer bagi kelangsungan bisnis UNTR di tengah dinamika batubara.

UNTR juga berpotensi diuntungkan oleh tren kenaikan harga emas global serta pemulihan harga batubara yang mulai memasuki fase bullish consolidation.

Nafan merekomendasikan add saham UNTR dengan target harga Rp 30.950 per saham. Sementara itu, Wafi menyarankan hold dengan target harga Rp 30.000 per saham.

Dengan kombinasi diversifikasi emas dan stabilisasi bisnis batubara, saham UNTR dinilai masih memiliki prospek menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini