Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Harga Saham Blue Chip Ini Terus Melonjak Usai Anjlok, Akankah Jadi 'Game Changer'?

 

Harga saham blue chip PT United Tractors Tbk (UNTR) terus mendaki belakangan ini usai anjlok dalam. Meski demikian, analis menilai saham milik Astra Group ini memiliki prospek cerah untuk investasi.

Harga saham UNTR pada perdagangan Rabu 18 Februari 2026 ditutup di level 29.975 naik 575 poin atau 1,96% dibandingkan sehari sebelumnya. Selama perdagangan lima hari terakhir, harga saham UNTR terakumulasi naik 2.650 poin atau 9,70%. 

Meski demikian, harga saham UNTR masih melemah 1.525 poin atau 4,84% dalam sebulan terakhir. 

Menurut analis, saham UNTR memiliki prospek investasi yang bagus karena kinerja periode mendatang yang menjanjikan di tengah polemik izin tambang yang sempat membayangi. Ekspansi agresif melalui akuisisi Tambang Emas Doup menjadi salah satu katalis jangka panjang bagi emiten Grup Astra ini.

Pada 11 Februari 2026, UNTR mengumumkan bahwa anak usahanya, PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) dan PT Energia Prima Nusantara (EPN), telah menyelesaikan transaksi akuisisi Tambang Emas Doup yang sebelumnya dikelola entitas usaha PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Transaksi dilakukan melalui Perjanjian Jual Beli Bersyarat antara UNTR melalui DTN dengan PT J Resources Nusantara (JRN) untuk pembelian 99,99996% saham PT Arafura Surya Alam (ASA) pada September 2025. 

Pada saat yang sama, melalui EPN, UNTR juga menandatangani perjanjian pembelian 0,00004% saham ASA serta 0,2% saham PT Mulia Bumi Persada (MBP) dari Jimmy Budiarto.

Nilai transaksi dan rencana produksi

Total enterprise value dalam transaksi ini mencapai US$ 540 juta. Nilai tersebut mencakup pembelian saham serta pengambilalihan utang pemegang saham JRN kepada ASA. Nilai bersih akhir masih akan disesuaikan dengan pos neraca ASA pada saat penyelesaian transaksi.

Manajemen UNTR sebelumnya menyampaikan bahwa setelah akuisisi rampung, perusahaan akan membangun fasilitas pemrosesan dan infrastruktur pendukung di Tambang Emas Doup. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan bijih (ore) hingga 3 juta ton per tahun dengan estimasi produksi emas sebesar 140.000–155.000 ons troi per tahun.

Targetnya, tambang ini mulai berproduksi pada 2028.

Prospek jangka panjang dan risiko proyek

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai akuisisi ini merupakan langkah strategis dan krusial bagi UNTR dalam jangka panjang.

Penambahan cadangan emas dinilai dapat meningkatkan kontribusi terhadap bottom line ketika tambang beroperasi penuh. Namun, UNTR tetap perlu mewaspadai risiko eksekusi proyek, terutama fluktuasi biaya konstruksi dan kebutuhan belanja modal (capex) yang besar.

Pengembangan tambang dari tahap development hingga produksi komersial juga memerlukan pengelolaan lingkungan yang ketat guna meminimalkan risiko ESG yang sensitif di industri pertambangan.

Kinerja 2026 relatif stabil

Wafi memperkirakan kinerja UNTR pada 2026 akan relatif stabil dan cenderung moderat. Polemik pencabutan izin Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources dinilai sudah priced-in oleh pasar, sehingga dampaknya tidak lagi signifikan seperti sebelumnya.

Meski demikian, pemulihan penuh tetap bergantung pada kelancaran operasional fasilitas tailing Agincourt.

Rekomendasi saham UNTR

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai fundamental UNTR masih solid. Diversifikasi ke emas berpotensi menjadi game changer bagi kelangsungan bisnis UNTR di tengah dinamika batubara.

UNTR juga berpotensi diuntungkan oleh tren kenaikan harga emas global serta pemulihan harga batubara yang mulai memasuki fase bullish consolidation.

Nafan merekomendasikan add saham UNTR dengan target harga Rp 30.950 per saham. Sementara itu, Wafi menyarankan hold dengan target harga Rp 30.000 per saham.

Dengan kombinasi diversifikasi emas dan stabilisasi bisnis batubara, saham UNTR dinilai masih memiliki prospek menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini