Penerbitan Obligasi ESG Melejit 146% di 2025 Tembus Rp 35,56 Triliun

  Tingginya minat investor akan aset berbasis Environmental, Social, and Governance ( ESG ) membuat lebih banyak perusahaan yang menerbitkan obligasi berbasis segmen ESG. Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), pada tahun 2025 penerbitan surat utang ESG mencapai Rp 35,56 triliun.  Realisasi penerbitan surat utang ESG sepanjang tahun lalu menurut data Pefindo meningkatkan 146% dibanding penerbitan di tahun 2024 yang hanya sebesar Rp 14,47 triliun. Jumlah emiten yang melakukan penerbitan tersebut terdiri dari 10 perusahaan.  Secara sektoral, sebagian besar nilai penerbitan Surat Utang ESG masih berasal dari sektor perbankan dengan persentase 71,1% dari total nilai penerbitan. Kemudian disusul dari sektor Non-Multifinance Financing 20,4% serta Special Purpose Financial Institution 7,03%. Adapun sektor property hanya memiliki share nilai penerbitan sebesar 1,4% dari total nilai penerbitan. Menurut Pefindo, penerbitan Surat Utang ESG baru mulai sema...

Bursa Australia Menguat Rabu (18/2) Pagi, NAB Cetak Rekor dan BlueScope Melonjak

 

Bursa saham Australia bergerak menguat pada Rabu (18/2/2026), didorong lonjakan saham perbankan setelah National Australia Bank (NAB) mencetak rekor tertinggi baru.

Sementara itu, saham BlueScope Steel melonjak menyusul peningkatan tawaran akuisisi.

Indeks acuan S&P/ASX 200 naik 0,5% menjadi 9.005 poin, memperpanjang kenaikan setelah sehari sebelumnya ditutup menguat 0,2%.

NAB Dorong Sektor Keuangan

Saham NAB sempat melesat hingga 5,8% ke level tertinggi sepanjang masa setelah bank tersebut melaporkan kenaikan laba kas kuartal pertama sebesar 16%.

Kinerja solid di segmen bisnis dan kredit perumahan menjadi pendorong utama.

Kenaikan NAB mengangkat sub-indeks sektor keuangan sekitar 1%, dan berpotensi memutus tren pelemahan tiga hari berturut-turut jika momentum bertahan.

NAB menjadi bank terakhir dari kelompok “Big Four” Australia yang merilis laporan keuangan bulan ini.

Keempat bank besar tersebut mencatatkan laba yang lebih kuat, sehingga mendorong sub-indeks keuangan naik hampir 8% sepanjang bulan berjalan.

BlueScope Terangkat Tawaran Akuisisi

Di sektor industri, saham BlueScope Steel melonjak hingga 6% setelah SGH Ltd bersama perusahaan asal AS Steel Dynamics meningkatkan tawaran pembelian terhadap produsen baja terbesar yang tercatat di Australia itu menjadi A$15 miliar (sekitar US$10,63 miliar).

Saham sektor kesehatan naik 1,5%, dipimpin oleh CSL setelah perusahaan biotek tersebut menandatangani kesepakatan lisensi dengan Eli Lilly.

Perjanjian itu memberikan hak tertentu kepada Eli Lilly untuk mengembangkan dan mengomersialisasikan clazakizumab, antibodi penghambat IL-6 untuk pasien penyakit ginjal tahap akhir.

Sebaliknya, sub-indeks pertambangan turun 0,7%, terbebani oleh saham produsen emas setelah harga emas melemah akibat berkurangnya permintaan aset safe haven seiring meredanya ketegangan geopolitik.

Di kawasan, indeks acuan Selandia Baru S&P/NZX 50 naik 0,7% menjadi 13.126,57 poin. Investor menantikan keputusan kebijakan moneter dari bank sentral Selandia Baru yang dijadwalkan keluar hari ini, dengan ekspektasi luas bahwa suku bunga akan dipertahankan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025