Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Saham Sejumlah Emiten Ban Menguat, GJTL dan GDYR Dinilai Masih Undevalued

 

Saham sejumlah emiten di industri ban mencatat kenaikan signifikan. Empat saham emiten ban mengalami kenaikan harga sejak awal tahun 2024.

PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) memimpin dengan kenaikan 61,42% sejak awal tahun ini. Harga saham MASA menguat selama tiga hari berturut-turut, meski diperdagangkan secara full call auction di papan pemantauan khusus.

Harga saham PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) juga naik dalam tiga hari perdagangan berturut-turut, mengakumulasi kenaikan 10,62%. Saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dan PT King Tire Indonesia Tbk (TYRE) turut mengalami kenaikan masing-masing sebesar 9,18% dan 7,32% sejak awal tahun.

GJTL, TYRE, dan MASA dijadwalkan membayarkan dividen atau payment date dari laba bersih tahun buku 2023 pada Jumat (26/7). GJTL akan membagikan total dividen sebesar Rp 174,22 miliar atau Rp 50 per saham. 

Dividen tersebut setara dengan 14,75% dari laba tahun lalu yang mencapai Rp 1,18 triliun. TYRE akan membagikan dividen tunai senilai Rp 7,6 miliar atau Rp 2 per saham. Sementara itu, MASA telah membagikan dividen senilai Rp 339,76 miliar atau Rp 37 per saham.

Analis Stocknow.id, Muhammad Thoriq Fadilla, menyatakan bahwa prospek emiten ban ke depan akan terdorong oleh meningkatnya pasar kendaraan listrik dan ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). 

"Ban lokal akan semakin diminati oleh produsen, sehingga produksi ban domestik akan meningkat dan ini menjadi sentimen positif bagi emiten ban," kata Thoriq kepada KONTAN, Rabu (24/7).

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, memprediksi kinerja emiten ban akan tumbuh moderat di sisa tahun 2024 seiring lesunya penjualan mobil. 

Menurutnya, saham GJTL dan GDYR masih undervalued dan layak dikoleksi dengan strategi trading buy untuk jangka pendek. 

Thoriq dan Sukarno sama-sama menargetkan harga saham GJTL dan GDYR masing-masing pada kisaran Rp 1.165–Rp 1.195 dan Rp 1.680–Rp 1.780 untuk Thoriq, serta Rp 1.190–Rp 1.205 dan Rp 1.710–Rp 1.800 untuk Sukarno.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)