Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Harga Emas Diramal akan Turun, Rilis Data NFP Jadi Sentimen Utamanya

 

Harga emas diperkirakan akan mengalami penurunan jangka pendek, dengan rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) sebagai faktor utamanya. Berdasarkan Trading Economics, harga emas menguat 0,18% ke level US$ 2.361 per ons troi.

Andrew Fischer, analis dari Deu Calion Futures (DCFX), mengungkapkan bahwa emas menunjukkan tanda-tanda penurunan yang perlu diperhatikan. Penurunan ini, meskipun bersifat sementara, memiliki potensi untuk terus berlanjut dalam waktu dekat.

Fischer menjelaskan bahwa tanda-tanda penurunan harga emas disebabkan oleh beberapa faktor utama. Pertama, pelaku pasar sedang menunggu rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan nanti malam, Jumat (5/7). Data NFP tersebut dipandang sebagai salah satu indikator penting yang dapat mempengaruhi keputusan kebijakan moneter dan arah pergerakan ekonomi selanjutnya. Oleh karena itu, ketidakpastian ini membuat harga emas cenderung bergerak turun dalam jangka pendek.

Selain itu, Fischer menuturkan adanya perubahan arah tren dari kenaikan menjadi penurunan. Ini didukung oleh analisis trendline dan candlestick yang menunjukkan sinyal bearish. Kombinasi dari kedua analisis teknikal ini mengindikasikan bahwa harga emas mungkin akan mengalami tekanan jual dalam waktu dekat.

Lebih lanjut, Fischer menyebutkan pada perdagangan Kamis (4/7), harga emas stabil di level tertinggi 10 hari di perdagangan Asia. Spot gold tercatat naik 0,1% menjadi US$ 2.359,56 per ons troi, sementara emas berjangka untuk pengiriman Agustus turun 0,1% menjadi US$ 2.367,15 per ons troi pada pukul 11:27 WIB.

"Kenaikan harga emas ini terjadi setelah meningkatnya spekulasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve, yang menekan dolar dan imbal hasil Treasury," kata Fischer dalam riset hariannya, Jumat (5/7).

Namun, Fischer menilai kenaikan emas ini terhenti oleh sinyal hawkish dari risalah pertemuan Fed bulan Juni. Para investor juga berhati-hati menjelang rilis data Non-Farm Payrolls, yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi AS. Sentimen pasar yang hati-hati ini juga dipicu oleh spekulasi penurunan suku bunga, yang meskipun mendukung harga emas, masih dibatasi oleh ketidakpastian mengenai kebijakan moneter Fed ke depan.

Di sisi lain, Fischer mengatakan bahwa logam mulia telah mengalami kenaikan yang kuat pada Rabu (3/7), mengikuti penurunan tajam dalam dolar. Ini terjadi setelah data pekerjaan ADP yang lebih lemah dari perkiraan dan pembacaan aktivitas non-manufaktur yang juga lemah, sehingga mendorong taruhan bahwa ekonomi AS sedang mendingin.

Fischer mengatakan, alat CME Fedwatch menunjukkan bahwa para investor memperkirakan lebih dari 68% peluang untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin di bulan September, naik dari 59% sehari sebelumnya. Suku bunga yang lebih rendah menjadi pertanda baik bagi aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

"Namun, optimisme atas penurunan suku bunga masih dibatasi oleh sinyal hawkish dari notulen rapat Fed," imbuhnya.

Selain itu, kehati-hatian menjelang rilis data-data penting yang secara konsisten melampaui ekspektasi dalam beberapa bulan terakhir juga membatasi sentimen positif terhadap emas. Peningkatan appetite risiko juga membuat para trader lebih memilih aset-aset seperti saham dan mata uang.

Secara keseluruhan, Fischer menyebutkan, meskipun ada potensi penurunan harga emas dalam jangka pendek karena pengaruh data NFP dan sinyal dari Fed, prospek dalam jangka panjang tetap optimis dengan banyak faktor pendukung yang berpotensi mendorong harga emas ke level yang lebih tinggi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini