Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Menilik Peluang Bunga Holding Ultra Mikro untuk Bisa Turun

 JAKARTA. Keberadaan Holding Ultra Mikro yang telah dibentuk kurang lebih dua tahun sejatinya diharapkan bisa mengakselerasi kredit di segmen ultra mikro. Terutama, dengan memberikan bunga yang tak terlalu mencekik.
Seperti diketahui, hingga akhir Juni 2023, Holding Ultra Mikro telah melayani 36 juta nasabah kredit mikro dan ultra mikro, dengan total nilai kredit yang disalurkan mencapai Rp 577,9 triliun.
Selain pembiayaan, segmen mikro dan ultra mikro juga tercatat menjadi nasabah simpanan dengan jumlah besar di BRI yakni hingga Rp 309 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae menyadari selama ini tantangan terkait dengan penetapan suku bunga UMKM antara lain kebutuhan akan kesiapan infrastruktur yang berpengaruh terhadap beban operasional.   
Oleh karenanya, OJK mendorong sinergi melalui peningkatan peran BRI di holding Ultra Mikro dalam penyediaan jaringan dan sarana pendukung yang dapat digunakan bersama yang dioptimalkan dengan pemanfaatan teknologi.  
“OJK telah menetapkan kebijakan agar bank melaporkan suku bunga dasar kredit sehingga masyarakat dapat mengetahui besaran suku bunga yang ditetapkan oleh perbankan termasuk pada segmen mikro,” ujarnya.
Selain itu, Dian juga mengungkapkan selalu mempertimbangkan berbagai aspek yang dapat mempengaruhi kondisi industri perbankan di Indonesia dalam menghadapi berbagai situasi termasuk risiko yang dapat berdampak terhadap kinerja bank untuk menanggapi permintaan kelonggaran Batas Minimum Pemberian Kredit (BMPK)
“dalam hal ini termasuk kebutuhan akan pengembangan kredit segmen ultra mikro,” ujar Dian.
Sementara itu, Direktur Utama BRI Sunarso bilang pihaknya sebagai induk Holding Ultra Mikro terus menjalankan transformasi dalam pengembangan segmen UMKM, utamanya usaha ultra mikro di Indonesia.
Ia bilang holding yang berisi BRI, PNM dan Pegadaian telah bersama-sama mengembangkan outlet co-location atau outlet yang dapat digunakan bersama. Dari sekitar 15.500 outlet yang digunakan untuk melayani nasabah segmen ultra mikro dan mikro, sebanyak 1.013 outlet merupakan outlet co-location. JAKARTA. Keberadaan Holding Ultra Mikro yang telah dibentuk kurang lebih dua tahun sejatinya diharapkan bisa mengakselerasi kredit di segmen ultra mikro. Terutama, dengan memberikan bunga yang tak terlalu mencekik.
Seperti diketahui, hingga akhir Juni 2023, Holding Ultra Mikro telah melayani 36 juta nasabah kredit mikro dan ultra mikro, dengan total nilai kredit yang disalurkan mencapai Rp 577,9 triliun.
Selain pembiayaan, segmen mikro dan ultra mikro juga tercatat menjadi nasabah simpanan dengan jumlah besar di BRI yakni hingga Rp 309 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae menyadari selama ini tantangan terkait dengan penetapan suku bunga UMKM antara lain kebutuhan akan kesiapan infrastruktur yang berpengaruh terhadap beban operasional.
Oleh karenanya, OJK mendorong sinergi melalui peningkatan peran BRI di holding Ultra Mikro dalam penyediaan jaringan dan sarana pendukung yang dapat digunakan bersama yang dioptimalkan dengan pemanfaatan teknologi.  
“OJK telah menetapkan kebijakan agar bank melaporkan suku bunga dasar kredit sehingga masyarakat dapat mengetahui besaran suku bunga yang ditetapkan oleh perbankan termasuk pada segmen mikro,” ujarnya.

“Kita ingin secara grup, secara konsolidasi melayani masyarakat sebanyak mungkin dengan cara yang seefisien mungkin, dan kemudian pada akhirnya masyarakat mendapatkan pelayanan dengan biaya yang murah,” ungkap Sunarso.
Direktur Utama PNM Arief Mulyadi bilang saat ini penurunan bunga masih dilakukan secara organik. Di mana, JAKARTA. Keberadaan Holding Ultra Mikro yang telah dibentuk kurang lebih dua tahun sejatinya diharapkan bisa mengakselerasi kredit di segmen ultra mikro. Terutama, dengan memberikan bunga yang tak terlalu mencekik.
Seperti diketahui, hingga akhir Juni 2023, Holding Ultra Mikro telah melayani 36 juta nasabah kredit mikro dan ultra mikro, dengan total nilai kredit yang disalurkan mencapai Rp 577,9 triliun.
Selain pembiayaan, segmen mikro dan ultra mikro juga tercatat menjadi nasabah simpanan dengan jumlah besar di BRI yakni hingga Rp 309 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae menyadari selama ini tantangan terkait dengan penetapan suku bunga UMKM antara lain kebutuhan akan kesiapan infrastruktur yang berpengaruh terhadap beban operasional.
Oleh karenanya, OJK mendorong sinergi melalui peningkatan peran BRI di holding Ultra Mikro dalam penyediaan jaringan dan sarana pendukung yang dapat digunakan bersama yang dioptimalkan dengan pemanfaatan teknologi.  
“OJK telah menetapkan kebijakan agar bank melaporkan suku bunga dasar kredit sehingga masyarakat dapat mengetahui besaran suku bunga yang ditetapkan oleh perbankan termasuk pada segmen mikro,” ujarnya.
Selain itu, Dian juga mengungkapkan selalu mempertimbangkan berbagai aspek yang dapat mempengaruhi kondisi industri perbankan di Indonesia dalam menghadapi berbagai situasi termasuk risiko yang dapat berdampak terhadap kinerja bank untuk menanggapi permintaan kelonggaran Batas Minimum Pemberian Kredit (BMPK)
“dalam hal ini termasuk kebutuhan akan pengembangan kredit segmen ultra mikro,” ujar Dian.
Sementara itu, Direktur Utama BRI Sunarso bilang pihaknya sebagai induk Holding Ultra Mikro terus menjalankan transformasi dalam pengembangan segmen UMKM, utamanya usaha ultra mikro di Indonesia.
Ia bilang holding yang berisi BRI, PNM dan Pegadaian telah bersama-sama mengembangkan outlet co-location atau outlet yang dapat digunakan bersama. Dari sekitar 15.500 outlet yang digunakan untuk melayani nasabah segmen ultra mikro dan mikro, sebanyak 1.013 outlet merupakan outlet co-location. JAKARTA. Keberadaan Holding Ultra Mikro yang telah dibentuk kurang lebih dua tahun sejatinya diharapkan bisa mengakselerasi kredit di segmen ultra mikro. Terutama, dengan memberikan bunga yang tak terlalu mencekik.
Seperti diketahui, hingga akhir Juni 2023, Holding Ultra Mikro telah melayani 36 juta nasabah kredit mikro dan ultra mikro, dengan total nilai kredit yang disalurkan mencapai Rp 577,9 triliun.
Selain pembiayaan, segmen mikro dan ultra mikro juga tercatat menjadi nasabah simpanan dengan jumlah besar di BRI yakni hingga Rp 309 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae menyadari selama ini tantangan terkait dengan penetapan suku bunga UMKM antara lain kebutuhan akan kesiapan infrastruktur yang berpengaruh terhadap beban operasional.
Oleh karenanya, OJK mendorong sinergi melalui peningkatan peran BRI di holding Ultra Mikro dalam penyediaan jaringan dan sarana pendukung yang dapat digunakan bersama yang dioptimalkan dengan pemanfaatan teknologi.  
“OJK telah menetapkan kebijakan agar bank melaporkan suku bunga dasar kredit sehingga masyarakat dapat mengetahui besaran suku bunga yang ditetapkan oleh perbankan termasuk pada segmen mikro,” ujarnya.

bunga tersebut turun untuk nasabah yang telah mendapatkan pembiayaan kedua kalinya.
Adapun, penurunan bunga yang saat ini sudah diberikan oleh PNM sekitar 7,5%. Untuk nasabah baru, bunga yang diberikan PNM ada di kisaran 25% per tahun.
Meskipun demikian, Arief bilang peluang bunga turun dengan adanya Holding Ultra Mikro masih terbuka. Harapannya, itu bisa membuat pembiayaan yang disalurkan pun semakin tumbuh yang hingga September 2023 senilai Rp 51 triliun.
“Saat ini kan integrasi sudah dilakukan, tinggal bagaimana implementasinya agar lebih efisien dan literasi masyarakat yang kita layani semakin tinggi,” ujarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini