Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Lagi-lagi Gegara Paman Sam, Dolar AS Kembali Dekati Rp15.900

 

Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akibat imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi sehingga capital outflow terjadi dari emerging market termasuk Indonesia.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka di angka Rp15.880/US$ atau melemah 0,09% dan semakin mendekati level Rp15.900/US$. Posisi ini meneruskan pelemahan kemarin (25/10/2023) yang juga terdepresiasi sebesar 0,13%.

Sementara indeks dolar AS (DXY) pada pukul 08.55 WIB menguat sebesar 0,11% menjadi 106,64. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan kemarin (25/10/2023) yang berada di angka 106,52.

Kemarin (25/10/2023), Menteri Keuangan Sri Mulyani ikut buka suara mengenai nilai tukar rupiah yang alami tekanan berat dalam beberapa waktu terakhir. Dolar Amerika Serikat (AS) bahkan nyaris menembus Rp 16.000.

Ia menjelaskan bahwa rupiah memang mengalami depresiasi secara year to date/ytd, namun relatif kecil jika dibandingkan dengan negara lain yang bisa lebih dari 5-10%.

Menurut Sri Mulyani ini adalah fenomena penguatan dolar AS. Penyebabnya yaitu utang AS yang membengkak menjadi US$33 triliun atau setara Rp 508.200 triliun (kurs Rp15.400). AS butuh biaya besar untuk menutupi defisit tersebut dengan penerbitan obligasi.

"Ini artinya AS untuk bisa meminjam dengan SBN 10 tahun dia harus bayar bunga di atas 5% pertama kali sejak 2007 biasanya AS yield-nya rendah karena suku bunga sejak global financial crisis sangat rendah fed policy hanya 0,25bps atau 0,25%," paparnya

Tingginya imbal hasil yang ditawarkan membuat investor berbondong-bondong membeli obligasi pemerintah AS. Begitu juga investor yang sudah menempatkan modalnya di negara berkembang.

"Ini menjadi sangat tidak predictable sangat volatile dan ini menyebabkan gejolak tidak hanya AS tapi seluruh dunia karena banyak negara investor beli surat berharga AS," terang Sri Mulyani.

Lebih lanjut, pada malam hari ini, AS akan merilis data pertumbuhan ekonominya yang diperkirakan akan tumbuh 4,3% quarter on quarter/qoq adv menurut konsensus TradingEconomics pada kuartal ketiga 2023.

Sebelumnya perekonomian AS tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 2,1% pada kuartal kedua tahun 2023, tidak berubah dari perkiraan sebelumnya, dan dibandingkan dengan pertumbuhan 2,2% yang direvisi naik pada kuartal pertama.

Ekonomi AS yang masih kuat didukung dengan pertumbuhan ekonomi kuartalannya yang berpotensi meningkat, akan memberikan tekanan terhadap rupiah karena investor melihat ekonomi AS saat ini sedang ketat dan panas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini