Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

Bursa Asia Dibuka Ambruk, IHSG Kudu Waspada!

 

Bursa Asia-Pasifik dibuka berjatuhan pada perdagangan Kamis (26/10/2023), mengikuti pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) yang kembali merana kemarin.

Per pukul 08:30 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang ambruk 1,9%, Hang Seng Hong Kong turun tipis 0,07%, Shanghai Composite China melemah 0,47%, Straits Times Singapura terkoreksi 0,11%, ASX 200 Australia ambles 1,11%, dan KOSPI Korea Selatan anjlok 1,8%.

Baca:

Asing Terciduk Lepas 10 Saham Ini Kala IHSG Menguat

Dari Korea Selatan, ekonominya pada kuartal III-2023 mampu menjaga momentum pertumbuhannya, setara dengan output kuartal sebelumnya seiring dengan membaiknya ekspor.

Produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan pada kuartal III-2023 tumbuh menjadi 1,4% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari sebelumnya sebesar 0,9%.

Sedangkan secara basis kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), PDB Negeri Ginseng tak banyak berubah dari kuartal II-2023 yakni sebesar 0,6%.

Ekspor tumbuh 3,5%, didorong oleh pengiriman semikonduktor dan mesin, setelah penurunan 0,9% pada kuartal kedua, berdasarkan data dari bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BoK).

Pada 19 Oktober lalu, BoK mempertahankan suku bunga di level 3,5%. Dalam menjaga suku bunga tetap stabil, bank tersebut menyoroti risiko kenaikan harga minyak akibat perang antara Israel dan kelompok militan Hamas, serta sikap kebijakan moneter yang restriktif di negara-negara besar.

Pada hari yang sama, BoK memperkirakan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan sebesar 1,4% pada tahun ini, sejalan dengan proyeksi yang dibuat pada Agustus lalu.

Ekspor barang-barang berteknologi tinggi merupakan pendorong utama pertumbuhan di negara ini, dengan penurunan pengiriman barang-barang teknologi informasi dalam beberapa bulan terakhir. Ekspor semikonduktor turun 14,4% pada September, sementara ekspor chip sistem turun 7,7%.

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang cenderung terkoreksi terjadi di tengah merananya bursa saham AS, Wall Street kemarin, karena melonjaknya kembali imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury).

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutupmelemah 0,32%, S&P 500 ambles 1,43%, dan Nasdaq Composite berakhir ambruk 2,43%.

Investor terus memperhatikan imbal hasil US Treasury, karena imbal hasil berada di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun.

Yield Treasry bertenor 10 tahun naik hampir 11 basis poin (bp) menjadi sekitar 4,95%. Ini diperdagangkan di atas 5% pada awal pekan, yang mengguncang investor dan memukul saham-saham teknologi.

Di lain sisi, pasar masih mencerna pernyataan Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell di Economic Klub New York.

Powell mengatakan bahwa The Fed saat ini mengambil langkah dengan hati-hati dan para pembuat kebijakan akan membuat keputusan mengenai sejauh mana kebijakan tambahan akan diperkuat dan berapa lama kebijakan akan tetap bersifat restriktif berdasarkan totalitas data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko.

Selain itu, Powell juga mengatakan bahwa kebijakan ketat memberikan tekanan pada aktivitas ekonomi dan inflasi.

Namun, bukti tambahan mengenai pertumbuhan yang terus-menerus berada di atas tren, atau bahwa pengetatan pasar tenaga kerja tidak lagi berkurang, dapat menempatkan kemajuan inflasi lebih lanjut dalam risiko dan memerlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Powell juga mencatat bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan bahwa pengembalian berkelanjutan ke sasaran inflasi 2% kemungkinan memerlukan periode pertumbuhan di bawah tren dan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah.

The Fed mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada level tertinggi dalam 22 tahun sebesar 5,25%-5,5% pada pertemuan September 2023.

Sementara para pelaku pasar melihat The Fed masih akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 1 November mendatang. Menurut perangkat FedWatch, Pasar meyakini 97,5% The Fed tetap mempertahankan suku bunga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025