Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

RLCO Resmi IPO di BEI, Saham Langsung ARA Naik 34,52%, Hari Ini (9/12) Beli/Jual?

 

PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), emiten pengolahan sarang burung walet dengan merek Realfood, resmi debut di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (8/12/2025). Pada hari pertama perdagangan, saham RLCO langsung melonjak 34,52% ke level Rp 226 per saham, menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) sejak pembukaan pasar.

Sebelumnya, RLCO menetapkan harga penawaran umum perdana (IPO) di Rp 168 per saham, yang merupakan batas atas rentang harga bookbuilding Rp 150–Rp 168 per saham.

RLCO menawarkan maksimal 625 juta saham, sehingga berpotensi meraih dana segar sekitar Rp 105 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 20% dari modal disetor.

Rencana penggunaan dana IPO:
- 56,33% untuk modal kerja, terutama pembelian bahan baku sarang burung walet.  
- 43,67% untuk penyertaan modal kepada PT Realfood Winta Asia, juga untuk pengadaan bahan baku sarang burung walet.

Antusiasme Investor dan Prospek Bisnis

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai performa RLCO pada hari pertama melantai sangat impresif. Menurutnya, lonjakan harga yang langsung menyentuh ARA menunjukkan antusiasme tinggi investor terhadap prospek jangka panjang RLCO.

Transformasi bisnis perseroan dari sekadar pemain komoditas menjadi perusahaan industri bernilai tambah dengan fokus pada produk kesehatan premium dinilai menjadi salah satu daya tarik utama.

Dengan kapitalisasi pasar awal sekitar Rp 525 miliar, RLCO memiliki ruang cukup besar untuk memperkuat fundamental, terutama melalui:
- optimalisasi modal kerja,
- penguatan rantai pasok,
- penyediaan bahan baku untuk kebutuhan perseroan dan Realfood Winta Asia.

“Strategi ini menunjukkan fokus perusahaan dalam memperbesar kapasitas produksi sekaligus mengamankan suplai bahan baku di tengah permintaan yang meningkat,” ujar Hendra.

Kinerja dan Ekspansi Pasar

Pada lima bulan pertama tahun 2025, RLCO mencatat pertumbuhan penjualan 47,56%, menandakan permintaan yang solid terhadap produk kesehatan berbasis *natural ingredients*.

RLCO juga memperluas pasar ke:
- China  
- Hong Kong  
- Amerika Serikat  
- Vietnam  
- Thailand  

Ekspansi regional ini dinilai membuka peluang pertumbuhan volume yang lebih stabil.

Prospek Saham RLCO dan Rekomendasi Analis

Secara teknikal, pergerakan harga yang langsung ARA menandakan minat spekulatif jangka pendek yang cukup kuat. Momentum ini berpotensi mendorong kelanjutan tren penguatan.

Menurut Hendra, RLCO layak diperhatikan sebagai saham pertumbuhan, seiring:
- momentum IPO yang positif,  
- tren industri *health & wellness* yang masih berkembang,  
- ekspansi agresif ke pasar internasional.

Untuk jangka pendek, saham RLCO berpotensi menuju area resistensi psikologis Rp 352 per saham, dengan catatan sentimen pasar dan arus beli investor ritel masih terjaga.

Hendra merekomendasikan Buy on Momentum dengan target awal Rp 300–Rp 352 per saham. Namun, investor tetap perlu waspada terhadap volatilitas yang lazim terjadi setelah IPO.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025