Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Multi Makmur (PIPA) Rombak Bisnis: Ekspansi Migas & Right Issue di Kuartal III 2026

 

Emiten manufaktur material bahan bangunan berbasis plastik PVC, PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) segera melakukan transformasi bisnis seiring dengan masuknya PT Morris Capital Indonesia sebagai pemegang saham pengendali baru. 

Direktur Multi Makmur Lemindo Imanuel Kevin Mayola menuturkan saat ini, manajemen PIPA tengah memasuki fase transisi strategis dari entitas manufaktur berbasis PVC menjadi holding investasi yang berfokus pada sektor energi

“Kami optimistis bahwa rangkaian aksi korporasi ini akan menjadi katalis positif bagi peningkatan nilai Perseroan dalam jangka menengah hingga panjang,” jelasnya dalam keterangan resmi, Kamis (18/12/2025). 

Sejak Oktober 2025, PT Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi pengendali PIPA. Saat ini, MCI tengah memproses Penawaran Tender Wajib alias Mandatory Tender Offer (MTO) yang ditargetkan rampung pada awal 2026.

Sebagai pondasi transformasi ke depan, Kevin memaparkan sejumlah inisiatif strategis pada 2026. Yaitu investasi inti bisnis, dimana rencana investasi pada aset pengolahan minyak dan gas dengan estimasi nilai hingga Rp 300 miliar. 

Investasi ini diharapkan menjadi sumber pendapatan utama jangka panjang dengan margin yang lebih baik. PIPA juga akan menguatkan infrastruktur dengan modal berasal dari penerbitan obligasi. 

“Kami berencana menerbitkan obligasi senilai sekitar Rp 460 miliar untuk memperkuat logistik dan infrastruktur energi, termasuk transportasi, penyimpanan, dan distribusi migas,” kata Kevin. 

Untuk ekspansi perdagangan, lanjut Kevin, PIPA menargetkan ekspansi usaha melalui akuisisi perusahaan afiliasi di sektor perdagangan migas. Rencana ini akan dibiayai melalui penerbitan obligasi dengan nilai hingga Rp 200 miliar. 

Sebagai bagian dari penyesuaian struktur organisasi dan tata kelola pasca-akuisisi, PIPA berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Februari 2026. 

Adapun agenda utama rapat tersebut mencakup perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi, serta pemberian persetujuan awal atas penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau Rights Issue, yang ditargetkan terlaksana pada kuartal III 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)