Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Bursa Asia Kompak Melemah di Pagi Ini (9/4), Pasar Bersiap Hadapi Tarif AS

 

Bursa Asia kembali melemah di awal perdagangan hari ini. Rabu (9/4), pukul 08.24 WIB, indeks Nikkei 225 anjlok 3,2% ke 31.955,68. Sejalan, indeks Hang Seng dibuka melemah 3,14% ke 19.494,92.

Sedangkan, indeks Taiex anjlok 1,58% ke 18.168,01. Lalu indeks Kospi turun 0,94% ke 2.312,24 dan indeks ASX 200 melemah 1,52% ke 7.395,6.

Sementara itu, FTSE Straits Times terlihat melemah 2,32% ke 3.388,99 dan FTSE Malay melemah 1,71% ke 1.418,85.

Bursa Asia anjlok karena investor bersiap menghadapi tarif khusus negara yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan mulai berlaku tengah malam di AS.

Pada pagi ini, indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka turun 1,06%.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 anjlok 3,14% saat pembukaan, sementara Topix diperdagangkan melemah 3,26%. 

Sejalan, indeks Kospi Korea Selatan juga dibuka turun tipis 0,18% dengan indeks Kosdaq berkapitalisasi kecil turun 0,44%.

Tarif tambahan AS akan berlaku tepat setelah tengah malam di AS, dengan menambah bea dasar 10% yang telah diterapkan pada hari Sabtu. Gedung Putih pun mengonfirmasi, barang-barang China sekarang akan menghadapi tarif kumulatif sebesar 104%.

Investor juga akan mencermati keputusan Reserve Bank of India yang diperkirakan memangkas suku bunga kedua berturut-turut di hari ini, menurut para ekonom yang disurvei oleh Reuters. Dengan begitu, suku bunga di India menjadi 6%.

Pada sesi sebelumnya, tiga indeks utama Wall Street ditutup melemah. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 320,01 poin, atau 0,84%, dan ditutup pada 37.645,59, sehingga kerugian empat harinya akibat kekhawatiran tarif. 

Saham Apple memimpin kerugian dengan biaya pembuat iPhone yang akan melonjak dengan tarif baru China.

Indeks S&P 500 anjlok 1,57% hingga ditutup pada 4.982,77. Indeks tersebut hampir ditutup dalam pasar yang melemah, usai turun hampir 19% dari rekor tertingginya di bulan Februari, dan mengakhiri sesi di bawah 5.000 untuk pertama kalinya sejak April 2024. 

Selama empat hari terakhir, indeks S&P 500 telah turun lebih dari 12%.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini