Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Prospek Kinerja Trimegah Bangun Persada (NCKL) Tetap Solid, Cek Rekomendasi Sahamnya

 

Kinerja emiten nikel, termasuk PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), menghadapi tekanan dari ketidakpastian global, terutama akibat perang tarif. Namun, prospek NCKL diperkirakan tetap kuat berkat proyeksi peningkatan produksi dan efisiensi pengendalian biaya.

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Ahmad Iqbal Suyudi, menilai perang tarif berpotensi menekan permintaan global, termasuk untuk kendaraan listrik. 

Tingginya tarif impor kendaraan listrik diperkirakan akan menurunkan volume produksi mobil listrik, yang berdampak pada melemahnya permintaan nikel sebagai bahan utama baterai.

"Meski belum ada tarif khusus untuk komoditas nikel, permintaan terhadap produk olahan nikel yang menurun turut melemahkan permintaan terhadap nikel itu sendiri," ujar Iqbal kepada Kontan, Kamis (24/4).

Meski demikian, prospek NCKL dinilai tetap kokoh. Salah satu indikatornya adalah rata-rata harga jual (average selling price/ASP) nikel yang diperkirakan stabil. "Harga nikel tetap berada di kisaran US$ 15.000–US$ 16.000 per ton, meskipun ada tekanan dari kebijakan tarif Presiden Trump," kata Iqbal.

Faktor pendukung lainnya adalah pasokan bijih nikel yang masih terbatas. Selain itu, rampungnya pembangunan smelter baru pada 2025 diharapkan dapat meningkatkan volume penjualan NCKL.

Equity Analyst OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, juga melihat prospek cerah bagi NCKL, terutama dari peningkatan penjualan bijih nikel setelah smelter tahap pertama milik Karunia Permai Sentosa (KPS) mulai beroperasi pada kuartal I-2025.

Produksi tambang Gane Tambang Sentosa (GTS) yang dijadwalkan dimulai pada semester II-2025 juga menjadi katalis positif. Tambang ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 185.000 ton, yang akan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan eksternal

"Proyeksi kami menunjukkan biaya kas NCKL akan tetap terjaga, memungkinkan margin EBITDA bertahan di atas 30%," ujar Devi.

Ia juga mencatat peningkatan kontribusi dari usaha patungan (joint venture) NCKL. Kenaikan kepemilikan saham di Obi Nickel Cobalt (ONC) dari 10% menjadi 20% serta potensi peningkatan produksi dari produk turunan seperti nikel sulfat, kobalt sulfat, dan kobalt elektrolit diperkirakan akan mendukung pertumbuhan laba bersih NCKL.

"Kami menaikkan proyeksi laba bersih NCKL sebesar 0,8% menjadi Rp 7,17 triliun pada tahun 2025," lanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini