Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Wall Street Anjlok: S&P 500 dan Nasdaq Ditutup Melemah Lebih dari 1%

 

Wall Street ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan di awal pekan ini. Bursa Saham Amerika Serikat (AS) itu terseret lonjakan imbal hasil US Treasury dan kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel.

Senin (15/4), Dow Jones Industrial Average ditutup turun 248,13 poin atau 0,65% menjadi 37.735,11, indeks S&P 500 melemah 61,59 poin atau 1,20% ke 5.061,82 dan indeks Nasdaq Composite turun 290,07 poin atau 1,79% ke 15.885,02.

Indeks S&P 500 kini sudah melemah 2,64% selama dua sesi terakhir, penurunan dua hari terbesar sejak awal Maret 2023. Indeks juga ditutup di bawah rata-rata pergerakan 50 hari, level dukungan teknis, untuk pertama kalinya sejak 2 November.

Dengan indeks S&P 500 keluar dari persentase penurunan satu hari terbesar sejak 31 Januari di sesi sebelumnya, bursa saham AS dibuka menguat sebagian setelah data menunjukkan penjualan ritel meningkat lebih dari perkiraan pada bulan Maret.

Sentimen lain yang juga memberikan dukungan di awal perdagangan adalah kenaikan di beberapa saham sektor keuangan setelah hasil kuartalannya.

Di mana, saham Goldman Sachs naik 2,92% setelah laba kuartal pertama mengalahkan perkiraan Wall Street, didorong oleh pemulihan dalam penjaminan emisi, transaksi dan perdagangan obligasi yang meningkatkan pendapatannya per saham ke level tertinggi sejak akhir tahun 2021.

Saham M&T Bank melonjak 4,74% setelah memperkirakan pendapatan bunga bersih (NII) tahunan yang lebih baik dari perkiraan. Sedangkan saham broker Charles Schwab naik 1,71% meskipun melaporkan penurunan laba kuartalan.

Saham-saham tersebut adalah tiga saham yang berkinerja terbaik di sektor keuangan pada indeks S&P 500.

Namun kenaikan tersebut memudar karena kekhawatiran permusuhan antara Israel dan Iran akan terus berkobar. Di tambah, imbal hasil Treasury melonjak, dengan obligasi AS dengan tenor acuan 10 tahun mencapai level tertinggi sejak November.

"Anda melihat sedikit kenaikan pagi ini karena mungkin orang berpikir 'OK, sahamnya dijual pada hari Jumat' untuk mengantisipasi sesuatu yang sangat buruk terjadi di Timur Tengah," kata Ken Polcari, Managing Partner di Kace Capital Advisors di Boca Raton. Florida.

“Semua masalah geopolitik akan menimbulkan ketegangan dan kecemasan di pasar, kesadaran bahwa suku bunga tidak akan turun dalam waktu dekat akhirnya akan menjadi kenyataan, itulah yang dikatakan pasar obligasi kepada Anda, bahwa suku bunga akan naik lebih tinggi," tambah dia.

Israel menghadapi tekanan yang semakin besar dari sekutunya untuk menahan diri dan menghindari eskalasi konflik di Timur Tengah ketika Israel mempertimbangkan bagaimana menanggapi serangan rudal dan drone Iran pada akhir pekan, yang diluncurkan setelah dugaan serangan Israel terhadap kedutaan besarnya.

Pada sesi ini, dari 11 sektor utama indeks S&P  500 melemah, dengan sektor real estat dan utilitas yang sensitif terhadap suku bunga termasuk di antara sektor-sektor dengan kinerja terburuk.

Saham-saham mengalami kesulitan baru-baru ini, dengan indeks S&P 500 mengalami penurunan selama dua minggu berturut-turut dan persentase penurunan mingguan terbesar sejak Oktober di pekan lalu karena investor telah memundurkan ekspektasi mengenai waktu dan ukuran penurunan suku bunga dari Federal Reserve.

Saham Apple turun 2,19% sebagai salah satu hambatan terbesar pada indeks S&P 500 setelah data dari firma riset IDC menunjukkan, pengiriman ponsel pintar perusahaan turun sekitar 10% pada kuartal pertama tahun 2024.

Saham Tesla juga merosot 5,6% setelah pembuat kendaraan listrik tersebut mengatakan akan memberhentikan lebih dari 10% tenaga kerja globalnya, menurut memo internal yang dilihat oleh Reuters.

Sejalan, saham Salesforce ambles 7,28% setelah Reuters melaporkan, mengutip sebuah sumber, bahwa pembuat perangkat lunak hubungan pelanggan sedang dalam pembicaraan lanjutan untuk mengakuisisi Informatica.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)