Menteri Ara dan Nusron Sepakat Sertifikasi Gratis untuk Rumah MBR

  Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sepakat menetapkan sertifikasi sektor perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) secara gratis. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Menteri PKP Maruarar Sirait dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Ruang Rapat Menteri ATR/BPN, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ara juga mengapresiasi terobosan Kementerian ATR/BPN dalam menghadirkan program sertifikasi gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Terobosan kolaborasi yang juga luar biasa dengan Pak Nusron adalah sertipikasi gratis bagi MBR. Itu merupakan karya dan dukungan yang luar biasa dari Menteri ATR/BPN bagi rakyat kecil," ujar dia dikutip dari keterangan resmi. Menteri Ara menuturkan, sinergi tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena tidak hanya memberikan kepastian...

Rekomendasi Emiten Properti yang Terimbas Pelemahan Rupiah, Mana yang Menarik?

 

Pelemehan rupiah bisa berimbas ke sejumlah emiten properti yang memiliki surat utang dolar Amerika Serikat (AS).

Melansir Bloomberg, Senin (15/4), rupiah spot berada di level Rp 15.848 per dolar AS.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi melihat, rupiah akan berada di rentang Rp 15.500 - Rp 16.100 per dolar AS di semester I 2024.

Sentimen pemberat kinerja rupiah terhadap dolar AS di semester I ini adalah kemungkinan ada tensi geopolitik, terutama di wilayah Timur Tengah.

“Apalagi pasar Indonesia libur Lebaran, sehingga belum ada data ekonomi terbaru yang dirilis,” ujarnya kepada Kontan, Senin (15/4).

Pelemahan rupiah membuat kinerja sejumlah emiten properti dengan obligasi dolar AS menjadi terbebani. 

Berdasarkan penelusuran Kontan, setidaknya ada empat emiten properti yang memiliki surat utang dolar AS yang tercatat dalam laporan keuangan. Keempat emiten itu adalah PT Modernland Realty Tbk (MDLN), PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

MDLN memiliki beban bunga dalam dolar AS yang setara Rp 24,98 miliar dan beban lain-lain sebesar Rp 5,07 miliar. Utang obligasi dalam dolar AS juga tercatat dalam rupiah sebesar Rp 5,75 triliun per akhir 2023.

Sementara, ASRI memiliki utang obligasi jangka panjang yang jika dirupiahkan sebesar Rp 3,49 triliun. APLN memiliki senior notes dengan jumlah pokok yang masih terutang sebesar US$ 131,96 juta.

Sedangkan, BSDE punya senior notes Global Prime Capital (GPC) VI sebesar US$ 300 juta yang akan jatuh tempo pada tanggal 23 Januari 2025.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, berdasarkan rasio utang dengan arus kas, MDLN dan APLN memiliki rasio utang yang paling berat di antara keempat emiten properti tersebut. 

Sementara, kinerja yang masih cukup bagus adalah BSDE. “Selama suku bunga tinggi dan rupiah masih lemah, kinerja akan tertekan. Sentimen positifnya nanti jika suku bunga turun,” ujarnya kepada Kontan, Senin (15/4).

Budi melihat, kinerja emiten sektor properti masih akan tertekan di tahun ini akibat tingginya suku bunga dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. 

Sektor lain yang juga ikut menurun di tengah pelemahan rupiah adalah emiten yang mempunyai impor besar. Misalnya, sektor farmasi, kertas, dan juga ban.

“Emiten yang banyak utang dolar AS juga akan tergerus kinerjanya, seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP),” ungkapnya. 

Sementara, sektor yang diuntungkan dari pelemahan rupiah ini adalah sektor energi dan sektor komoditas. “Yang untung adalah sektor energi dan komoditas, termasuk emas, yang harganya naik saat ini,” kata Budi.

CEO Edvisor.id Praska Putrantyo melihat, dari sektor properti yang menarik untuk diakumulasi saat ini adalah ASRI dan BSDE dengan pertimbangan rasio utang yang masih rendah serta valuasi saham yang masih atraktif.

Praska pun merekomendasikan accumulate untuk ASRI dan BSDE dengan target harga masing-masing Rp 166 - Rp 174 per saham dan Rp 1.040 - Rp 1.085 per saham.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini