Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Alasan Bank Sentral China Turunkan Suku Bunga

 


Di tengah tren kenaikan suku bunga di banyak negara, China justru memangkas suku bunga acuan. Loan Prime Rate (LPR/Suku Bunga Dasar Pinjaman) dengan tenor satu tahun, yang berfungsi sebagai tolok ukur untuk pinjaman korporasi, diturunkan dari 3,7 persen menjadi 3,65 persen.

Sementara LPR lima tahun, yang digunakan untuk harga hipotek, diturunkan dari 4,45 persen menjadi 4,3 persen. Head of Fixed Income, Ashmore Asset Management Indonesia, Anil Kumar beranggapan, keputusan itu merujuk pada ekonomi China yang ditopang oleh sektor properti. Sehingga untuk mengerek pertumbuhan ekonomi, perlu dihenjot pula kinerja sektor properti.

Ekonomi itu sepertiga dari sektor properti. Properti itu sangat booming. Sehingga untuk terus meningkatkan ekonomi, pertumbuhan properti di negara itu harus terus meningkat," kata Anil dalam webinar Money Buzz, Selasa (23/8/2022).

Selain itu, aktivitas ekonomi negeri tirai bambu itu belum sepenuhnya terbuka lantaran masih memberlakukan kebijakan zero covid-19. Warga setempat banyak yang tidak bersedia mendapat vaksin dari negara sendiri, sementara vaksin dari luar negeri belum bisa masuk. Hal itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi China berjalan relatif lambat.

"Oleh karena itu inflasi di China tidak meningkat drastis, sementara  ekonominya sedikit melemah. Maka Bank Sentralnya mampu untuk melakukan penurunan suku bunga dan bisa melakukan stimulus ekonomi," tutur Anil.

Di sisi lain, kebijakan penurunan suku bunga acuan berdampak pada nilai tukar mata uang negara setempat yang melemah. Aksi ini juga dinilai sebagai salah satu manuver China untuk menjadi pemimpin ekonomi dunia, mengungguli Amerika Serikat.

"Ini bisa jadi salah satu strategi China untuk punya bargaining power lebih ke Amerika Serikat. Mungkin ini saatnya China untuk untuk apa namanya mengambil langkah menjadi leader of economic in the world,” pungkas dia.

 

Sebelumnya, Goldman Sachs dan Nomura kembali menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi China, di tengah ketidakpastian yang dipicu dari kebijakan nol-Covid-19 dan krisis energi.

Dilansir dari CNBC International, Jumat (19/8/2022) Goldman Sachs menurunkan proyeksi ekonomi China dalam setahun penuh 2022 menjadi 3,0 persen dari semula 3,3 persen.

Sementara Nomura memangkas proyeksi ekonomi China setahun penuh menjadi 2,8 persen dari 3,3 persen.

Pemotongan tersebut mewakili pesimisme yang berkelanjutan di antara bank-bank investasi atas target pertumbuhan resmi ekonomi China sebesar 5,5 persen.

Namun, pada Juli 2022, pejabat China mengindikasikan ekonomi negara itu mungkin tidak akan mencapai target PDB tahun ini.

Terkait proyeksi terbarunya, ekonomGoldman Sachs mengutip data ekonomi terbaru untuk bulan Juli serta kendala energi jangka pendek karena gelombang panas yang ekstrim di China.

Seperti diketahui, China menjadi salah satu negara yang menghadapi gelombang panas terburuk dalam beberapa dekade. Masalah iklim ini membebani pasokan listrik yang sudah tertekan dan menyebabkan pengurangan produksi di beberapa wilayah negara itu.

Ekonom dari Goldman dan Nomura juga mencatat kenaikan kasus Covid-19 secara nasional serta kontraksi investasi properti yang membuat minat investasi surut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini