Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Bursa Asia Kompak Melemah Pada Rabu (29/5) Pagi

 

Bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Rabu (29/5) pagi. Pukul 08.24 WIB, indeks Nikkei 225 turun 38,37 poin atau 0,09% ke 38.823,35, Hang Seng turun 161,75 poin atau 0,86% ke 18,659,41, Taiex naik 30,50 poin atau 0,15% ke 21.894,62, Kospi turun 22,13 poin atau 0,82% ke 2.700m45, ASX 200 turun 53,21 poin atau 0,69% ke 7,713,50, Straits Times turun 4,89 poin atau 0,15% ke 3.325,01 dan FTSE Malaysia turun 4,62 poin atau 0,29% ke 1.611,news20.

Mengutip Bloomberg, bursa Asia melemah karena para pedagang menilai ada aksi jual obligasi, data ekonomi yang beragam dan komentar dari pejabat Federal Reserve untuk mendapat petunjuk mengenai prospek arah kebijakan moneter ke depan.

Kepercayaan konsumen AS bulan Mei yang lebih kuat dari perkiraan dan pernyataan hawkish dari pejabat The Fed Neel Kashkari juga menyebabkan surutnya ekspektasi penurunan suku bunga.

Kashkari mengatakan, sikap kebijakan bank sentral bersifat restruktif, namun para pejabat belum sepenuhnya mengesampingkan kenaikan suku bunga tambahan. 

Pasar kini juga tengah menanti data inflasi AS yang akan menjadi tolok ukur bagi The Fed untuk mengambil keputusan terkait arah suku bunga. 

"Kami sekarang memperkirakan penurunan suku bunga pertama The Fed akan terjadi pada November atau Desember," kata Chris Low di FHN Financial.

"FOMC mengharapkan laporan inflasi baik, dan pejabat The Fed seperti Christopher Waller menyiratkan bahwa laporan tersebut seharusnya lebih baik dibanding April, maupun bulan-bulan sebelumnya di kuartal pertama."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini