Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Diplomat Pro Suu Kyi dan Militer Myanmar Berebut Kursi di PBB

 

Diplomat Myanmar yang dipecat dan pemerintah junta militer kini tengah bersaing memperebutkan kursi perwakilan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

 

Dilansir Reuters, Rabu (3/3), diplomat Myanmar, Kyaw Moe Tun, menuliskan surat kepada Presiden Majelis Umum PBB, Volkan Bozkir, dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, menyatakan dia masih sah menjadi Duta Besar Myanmar untuk PBB.

"Pelaku kudeta terhadap pemerintah Myanmar tidak berwenang untuk mengambil alih kekuasaan presiden negara saya," demikian isi surat Tun.

 

Junta militer Myanmar menyatakan memecat Tun karena dinilai berkhianat, setelah menyampaikan pidato di hadapan Majelis Umum PBB yang menyatakan dia mendukung pemerintahan Presiden Win Myint dan Penasihat Negara Aung San Suu Kyi. Saat itu Tun juga mendukung gerakan rakyat yang menentang kudeta dan menuntut pemerintahan demokratis.

Akan tetapi, junta militer Myanmar mengirim surat kepada PBB yang berisi mengangkat Wakil Duta Besar untuk PBB, Tin Maung Naing, menggantikan posisi Tun.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicara Stephane Dujarric menyatakan sudah menerima surat pemberitahuan dari junta militer Myanmar terkait perubahan perwakilan di PBB.

"Jujur saja ini situasi yang unik dan sudah sangat lama tidak terjadi. Kami mencoba menyelesaikan hal ini dengan sejumlah aturan hukum dan mempertimbangkan dampak lainnya," kata Dujarric.

Kini usulan pergantian perwakilan di PBB yang diajukan junta militer Myanmar harus ditelaah oleh sembilan negara anggota Komite Perwakilan PBB. Mereka yang nantinya akan memutuskan siapa yang berhak mewakili Myanmar di lembaga itu, apakah Tun atau calon utusan yang diajukan oleh junta militer.

Kekerasan yang dilakukan aparat Myanmar terhadap para demonstran juga terus menelan korban. Kemarin tercatat ada tiga orang demonstran terluka akibat tertembak peluru tajam saat aparat membubarkan unjuk rasa menentang kudeta.

Sampai saat ini diperkirakan ada 24 orang meninggal dalam aksi unjuk rasa di Myanmar.

Guterres mendesak junta militer Myanmar berhenti menggunakan kekerasan untuk menghadapi pengunjuk rasa.

Utusan Khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, mendesak supaya seluruh negara anggota PBB tidak mengakui pemerintahan junta militer untuk memberikan tekanan diplomatik selepas kudeta pada 1 Februari lalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini