Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Proses Brexit, poundsterling mampu unggul

PT Bestprofit - JAKARTA. Mata uang dollar Amerika Serikat (AS) gagal mempertahankan penguatannya. Pernyataan pejabat The Fed dovish dan sajian data ekonomi yang beragam menjadi sentimen negatif ditengah penguatan indeks dollar. The Greenback akhirnya tersungkur di hadapan poundsterling. Mengutip Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat pasangan GBP/USD tercatat menguat 0,66% ke level 1,2550 dari sebelumnya. 

Menurut Vidi Yuliansyah, analis PT Monex Investindo Futures penguatan pasangan GBP/USD didorong karena perbaikan neraca perdagangan Inggris di kuartal IV 2016. Defisitnya mengalami penurunan dari 25,7 miliar pound menjadi 12,1 miliar. Penguatan ini terjadi ditengah posisi Inggris masih dibawah tekanan,” ungkapnya kepada Kontan, akhir pekan ini. 

Pound masih mendapatkan sentimen negatif pasca dilakukannya pengajuan artikel 50 pada Rabu lalu oleh Perdana Menteri Inggris Theresa May. Penanda dimulainya proses brexit itu memicu ketidakpastiaan akan outlook ekonomi Inggris. Apalagi proses ini akan memakan waktu selama kurang lebih 2 tahun. Kemudian pelemahan dollar AS sendiri terjadi setelah keluarnya pernyataan bernada dovish dari pejabat The Fed yaitu William C. Dudley dan Neel Kashari. 

Keduanya sama-sama berpandangan kenaikan suku bunga acuan selanjutnya tidak perlu dilakukan terburu-buru. Padahal ekspektasi pasar cukup tinggi akan rencana tersebut. Alhasil berkat pernyataan tersebut indeks dollar yang awalnya sempat menguat harus terkoreksi. Melansir dari Bloomberg pada perdagangan Jumat indeks dollar ditutup 0,06% ke level 100,350.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini