Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

Mencermati Prospek Kinerja Emiten Sejuta Umat dan Rekomendasi Analis

 

Pada 31 Oktober 2024, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan sepuluh emiten dengan jumlah investor terbanyak. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berada di posisi teratas dengan 586.130 investor dan 150.043.411.587 saham yang beredar. 

Diikuti oleh PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan 346.045 investor dan 1.140.573.267.220 saham yang beredar, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang memiliki 338.194 investor dan 122.042.299.500 saham.

Adapun emiten lainnya dalam daftar tersebut termasuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan 233.550 investor, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang tercatat dengan 227.734 investor, dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) yang memiliki 221.329 investor. 

Sementara itu, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) tercatat dengan 182.070 investor, disusul oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan 167.910 investor. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Astra International Tbk (ASII) melengkapi daftar dengan masing-masing 165.354 dan 158.534 investor.

Namun, meskipun beberapa emiten ini telah lama menjadi favorit investor, kinerja saham beberapa di antaranya justru menurun. Saham GOTO misalnya, tercatat turun 22,11% dalam setahun terakhir, sementara saham ASII juga mengalami penurunan sebesar 19,84% sejak lima tahun lalu. 

Selain itu, beberapa emiten yang sebelumnya populer, seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), kini tidak lagi menjadi perhatian utama investor.

Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan, salah satu penilaian para investor dalam memilih emiten favorit adalah kinerja fundamental dan prospek bisnis perusahaan di masa mendatang.

“Investor membeli saham yang berkinerja baik dan punya propek masa depan yang baik, karena itu saham UNVR, GOTO, dan BUMI melempem,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (27/11).

Selain faktor internal, seperti kinerja yang kurang memuaskan, Hans juga mengaitkan penurunan ini dengan faktor eksternal, seperti kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS, ketegangan konflik Rusia-Ukraina, dan kebijakan moneter The Fed yang memengaruhi pasar saham global.

Meski demikian, Hans menyarankan agar investor fokus pada empat emiten perbankan teratas, yaitu BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA, hingga awal tahun 2025. Ia juga mencatat bahwa sektor energi terbarukan bisa menjadi pilihan investasi menarik dalam jangka panjang.

Hendra Wardana, pendiri Stocknow.id, menyatakan bahwa emiten favorit, yang sering disebut "emiten sejuta umat," biasanya dipilih karena memiliki fundamental yang kuat, likuiditas tinggi, dan prospek pertumbuhan yang menjanjikan. 

Saham-saham seperti BBRI, GOTO, dan FREN, terutama di sektor keuangan digital dan teknologi, dipandang memiliki potensi pertumbuhan lebih besar dibandingkan sektor tradisional. Namun, Hendra mengingatkan bahwa saham-saham ini juga rentan terhadap aksi jual besar-besaran jika ekspektasi pasar tidak terpenuhi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025