Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Surat Terakhir Seorang Wanita Korban Holocaust


PT BESTPROFIT - Nazi melakukan pembunuhan massal terhadap jutaan orang, sebagian besar umat Yahudi, pada tahun 1944 silam. Pembunuhan massal itu dikenal sebagai tragedi holocaust. 

Korban dikumpulkan di beberapa kamp pengungsian untuk kemudian dibunuh bersama-sama dengan menggunakan gas. Salah satu kamp pengungsian itu adalah kamp pengungsian Auschwitz. BESTPROFIT


Dilansir dari Sky News, Jumat (11/5/2018), sebuah surat terakhir dari salah satu korban tewas di Auschwitz, Vilma Grunwald, dirilis ke publik oleh pihak keluarga. BEST PROFIT

Kala itu Grunwald menitipkan suratnya ke penjaga untuk disampaikan ke suaminya yang juga tewas dalam tragedi itu. Surat itu kemudian sampai di tangan anak bungsu Grunwald, Frank. Surat Grunwald itu kini dipajang di Museum Peringatan Holocaust Amerika Serikat.

"Ayah, ibu dan kakak laki-laki saya dan saya dikirim ke Auschwitz pada bulan Desember 1943. Sekitar 5.000 narapidana telah tiba sebelum kami, pada bulan September. Kami adalah 5.000 yang kedua," ujar Grunwald dalam suratnya. 

Surat tersebut ditulis antara Maret dan April 1944. Beberapa bulan setelah Grunwald tiba di Auschwitz, dia masuk dalam kelompok yang akan dieksekusi. 

"Kami semua berbaris di depan dokter Josef Mengele, yang dijuluki Malaikat Maut, dia akan memilih siapa yang akan hidup atau mati," tulis Grunwald.

"Saudaraku, John, yang empat tahun lebih tua dariku, cacat, dan dia dipilih untuk mati. Dan karena saya kurang dari 12 tahun, saya juga dihukum mati," imbuhnya.

Sumber : Detik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025