Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Sumber Global (SGER) Raih Kontrak Batubara dari Pembangkit di Filipina US$ 10,94 Juta

 

PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) kembali melakukan ekspansi ke pasar luar negeri. Yang terbaru, emiten yang bergerak di bidang perdagangan (trading) batubara ini mendapat kontrak dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Minergy Power Corporation Philippine.

Corporate Secretary Sumber Global Energy Michael Harold mengungkapkan pada 25 November 2024, SGER sebagai penjual telah menandatangani perjanjian jual-beli batubara dengan Minergy Power Corporation (MPC) di Filipina. 

Perjanjian ini memiliki potensi nilai kontrak senilai US$ 10,94 juta atau sekitar Rp 173 miliar. 

“Perjanjian dengan MPC merupakan langkah penting kami dalam berekspansi di Filipina. Kami akan terus menjajaki kerjasama potensial dengan pelanggan lain di Filipina mengingat pasar batubara di Filipina sangat potensial,” kata Michael dalam siaran tertulis yang disiarkan Senin (2/12).

Menurut Michael, industri batubara di Filipina memiliki prospek yang menarik, terutama karena perannya sebagai salah satu sumber energi utama di negara tersebut. 

Filipina mengandalkan batubara untuk pembangkit listrik, dengan lebih dari separuh kebutuhan energi dipenuhi oleh pembangkit listrik berbasis batubara.

Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan energi di Filipina terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi. 
“Dalam jangka panjang, batubara masih akan memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi Filipina, terutama selama masa transisi menuju energi bersih,” sambung Michael.

Sebagai informasi, MPC merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Mindanao Energy Systems Inc. (Minergy), produsen listrik Independen yang didirikan pada tahun 1992. MPC bergerak di bidang pembangkitan, transmisi, dan distribusi tenaga Listrik yang berlokasi di Balingasag, Provinsi Misamis Oriental, Filipina.

Didirikan pada 18 Februari 2013, MPC memiliki proyek PLTU Balingasag, yakni pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas 3 x 55 megawatt (MW) di Balingasag. Adapun, SGER sedang gencar merambah pasar Asia Tenggara.

Sebelum Filipina, SGER telah terlebih dahulu mengamankan pasar batubara Vietnam. Belum lama ini, SGER meneken perjanjian pasokan batubara (coal supply agreement) dengan Power Generation Corporation sebesar 500.000 metrik ton dengan nilai kontrak hingga US$ 44,45 juta atau sekitar Rp 705 miliar.

SGER pun membuka peluang melakukan ekspansi ke pasar negara Asia Tenggara lainnya. 
“Dengan masuknya SGER ke pasar Filipina dan Vietnam, kami meyakini kinerja SGER akan bertumbuh ke depan, ditopang oleh permintaan batubara dari pasar Asia Tenggara,” tutup Michael.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025