Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Terpisah oleh Tembok Israel, Keluarga Palestina Ini Dirikan "Republik"


PT BESTPROFIT - Logikanya, tembok yang terletak di utara Ramallah, Tepi Barat, telah memisahkan dua wilayah dengan jelas.

Di satu sisi adalah wilayah orang Palestina, sedangkan di sisi lain merupakan milik warga Israel.

Namun, jika diperhatikan dengan teliti, terdapat sebuah celah kecil di antara tembok tersebut yang menjadi wilayah tempat keluarga Jumaa berada. BESTPROFIT


Jumaa merupakan satu-satunya keluarga yang terdampak pembangunan tembok tambahan baru yang dilakukan Israel. BEST PROFIT

Karena pembangunan tembok tersebut, mereka terpisah dari kota Palestina terdekat, El-Bireh.

"Kami merasa berada di permukiman Israel meski saya orang Palestina. Kami merasa sendirian," kata Hossam Jumaa (54), kepala keluarga Jumaa kepada AFP Rabu (31/1/2018).

Jumaa terdiri dari tiga keluarga dengan 25 anggota yang tinggal di sebuah rumah di dalam tembok Tepi Barat.

Karena adanya tembok tersebut, mereka sering kali harus melewati pos militer Israel hanya untuk pergi ke wilayah Palestina guna membeli susu atau kebutuhan pokok lainnya.

Adik Hossam, Hakim Jumaa (50) memaparkan, awalnya pada 2015 mereka menerima informasi dari otoritas Israel bahwa mereka bakal memperluas tembok.

Meski memperluas tembok, keluarga Jumaa tetap berada di wilayah Palestina.

Namun, rencana itu berubah seiring ucapan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel (6/12/2017).

Pernyataan tersebut membuat pembangunan tembok kembali diperluas hingga akhirnya Jumaa terpisah dari warga Palestina lainnya.

Saat itu, alasan Israel adalah pasca-pengakuan, warga mereka di Beit El sering diserang sebagai bentuk protes.

"Memang, tembok itu tidak sampai mencaplok wilayah pribadi atau menyakiti kami," ujar Hakim.

Namun, karena mereka berada di dalam tembok, otomatis keluarga itu bakal menjadi sasaran orang-orang Israel yang berniat mendirikan rumah di wilayah mereka.

Hossam menyatakan, dia ingat pada awal 1990-an, rumah mereka sering dilempari batu oleh para pendatang.

"Sekarang, setelah kami masuk ke dalam bagian Israel, kami takut bakal sering diserang oleh para pendatang," keluh Hossam.

Belum lagi adanya militer yang menggunakan jalan di dekat rumah mereka untuk menempatkan kendaraan.

Kondisi itu membuat anak-anak Jumaa menjadi takut untuk sekadar pergi sekolah, atau membeli makanan.

Hossam berujar, dia pernah meminta pemerintah Palestina untuk memprotes pembangunan tembok itu.

Namun, tambah Hossam, nyatanya para politisi Palestina hanya memberikan bantuan yang tidak terlalu berpengaruh kepada mereka.

Karena mereka sudah tidak punya siapapun di kawasan tersebut, Hakim dengan bercanda berkata bahwa mereka adalah keluarga merdeka.

"Mulai sekarang, kami bakal memanggil diri kami dengan Republik Besar Jumaa," kelakar Hakim.

Sumber : Kompas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini