Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Bayang-bayang Corona Tekan Rupiah ke Rp14.482 per Dolar AS

 

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.482 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Kamis (15/7) sore. Posisi ini melemah 2 poin atau 0,02 persen dari Rp14.480 per dolar as pada Rabu (14/7).

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.503 per dolar AS atau melemah dari Rp14.493 per dolar AS pada Rabu kemarin.

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama baht Thailand minus 0,15 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,02 persen. Hanya ringgit Malaysia yang stagnan.

Lihat Juga :
Pekerja Pabrik WFO 100 Persen, PPKM Dinilai Tak Efektif


Sedangkan mata uang Asia lainnya berlabuh di zona hijau. Won Korea Selatan menguat 0,61 persen, yen Jepang 0,2 persen, peso Filipina 0,19 persen, yuan China 0,13 persen, rupee India 0,07 persen, dan dolar Singapura 0,04 persen.

Di jajaran mata uang utama negara maju, sebagian melemah dari dolar AS, seperti dolar Australia minus 0,09 persen, poundsterling Inggris minus 0,06 persen, dan rubel Rusia minus 0,03 persen.


Tapi sebagian lagi menguat, seperti franc Swiss menguat 0,31 persen euro Eropa 0,12 persen, dan dolar Kanada 0,02 persen.

Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena jumlah kasus covid-19 di Indonesia terus meningkat. Selain itu, data ekonomi terbaru di dalam negeri, yaitu neraca perdagangan juga tidak memberi dampak penguatan kepada rupiah.

Pasalnya, surplus neraca dagang justru turun dari US$2,7 miliar pada Mei 2021 menjadi US$1,32 miliar pada Juni 2021.

"Jadi masih terpengaruh karena peningkatan jumlah kasus covid-19, sedangkan sentimen dari neraca dagang tidak membantu," ungkap Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Di sisi lain, menurutnya, rupiah juga masih terkena imbas dari rekor inflasi AS. Hal ini membuat pasar kembali menanti perubahan kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Federal Reserves.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini