Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Biaya perang dagang US$ 470 miliar




PT BESTPROFIT Keputusan Amerika Serikat (AS) menerapkan tarif impor baja dan aluminium baru langkah awal. Presiden AS Donald Trump mengatakan, akan ada lebih banyak pungutan bea masuk impor lain yang akan diterbitkan.Menurut ekonom Bloomberg Economics, perang perdagangan seperti ini berpotensi menambah biaya ekonomi hingga US$ 470 miliar secara global. 

Skenario tambahan biaya tersebut ketika AS menerapkan tarif impor sebesar 10% dan negara-negara lain akan melakukan tindakan balasan dengan menerapkan kebijakan serupa. Analisa para ekonom Bloomberg yang dirilis Senin juga memprediksi, pertumbuhan ekonomi global akan turun 0,5% daripada seharusnya pada tahun 2020 dengan adanya kebijakan tarif impor ini. BEST PROFIT

Ini skenario ekstrem tapi ini bukan hal yang mustahil untuk terjadi," ujar ekonom Jamie Murray dan Tom Orlik dalam analisisnya.  Ekonom melihat, gejolak ekonomi akan terjadi lewat berbagai elemen seperti inflasi yang naik lebih cepat sehingga menurunkan permintaan konsumen di AS. Pada gilirannya kondisi ini akan merugikan negara eksportir yang mengirim barang-barangnya ke AS. Pembalasan kebijakan tarif impor juga akan membuat kenaikan inflasi di negara-negara lain. 

Dampak pada AS akan terlihat lewat ekonomi yang akan tumbuh 0,9% lebih kecil di 2020 jika tarif impor dijalankan. Inflasi akan meningkat meskipun ekonom melihat The Federal Reserve (The Fed) akan melakukan penjagaan untuk sementara waktu. Faktanya, sebagian besar bank sentral global bisa menghadapi pilihan sulit antara mengatasi kenaikan harga dan pelemahan permintaan di tengah perang dagang. BESTPROFIT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini