Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 17.134 Per Dolar AS Hari Ini (16/4), Seluruh Asia Naik

  Nilai tukar rupiah di pasar spot berhasil rebound di awal perdagangan hari ini. Kamis (16/4/2026), rupiah dibuka di level Rp 17.134 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat tipis 0,05% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada pada level Rp 17.143 per dolar AS. Pergerakan rupiah pun sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Hingga pukul 09.00 WIB, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,42%. Disusul, dolar Taiwan yang menanjak 0,31%. Selanjutnya ada yen Jepang yang terkerek 0,17%. Lalu ada won Korea Selatan dan peso Filipina yang sama-sama terangkat 0,14%. Berikutnya, ringgit Malaysia naik 0,13% dan dolar Singapura terapresiasi 0,09%. Diikuti, dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,05%. Sementara itu, yuan China terlihat bergerak tipis dengan kecenderungan naik terhadap the greenback di pagi ini.

SR024 Nyaris Ludes, Minat Investor Ritel Melonjak di Tengah Ketidakpastian Global

 

Penyerapan Surat Berharga Negara (SBN) ritel seri SR024 hampir habis pada hari terakhir masa penawaran, mencerminkan tingginya minat investor terhadap instrumen berisiko rendah di tengah gejolak global.

Berdasarkan data per Rabu (15/4/2026) pukul 06.25 WIB, kuota SR024 tenor tiga tahun (SR024-T3) tersisa sekitar 1,9% atau Rp 236,7 miliar, dengan imbal hasil 5,55%.

Sementara itu, SR024 tenor lima tahun (SR024-T5) tinggal menyisakan 0,9% atau Rp 50,3 miliar, dengan kupon lebih tinggi sebesar 5,9%.

Seiring tingginya permintaan, pemerintah bahkan menambah kuota penerbitan sebesar Rp 2,5 triliun, sehingga total penawaran meningkat dari Rp 15 triliun menjadi Rp 17,5 triliun.

Kupon Kompetitif dan Sentimen Pasar Jadi Pendorong

Chief Economist Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo menilai, daya tarik SR024 berasal dari kombinasi kupon yang kompetitif dan kondisi pasar global yang tidak pasti.

“Kupon SR024 relatif menarik dibandingkan instrumen berisiko rendah lainnya, sehingga cocok bagi investor yang mencari pendapatan tetap,” ujarnya.

Menurutnya, volatilitas global dan ketegangan geopolitik mendorong investor ritel beralih ke instrumen yang lebih defensif dan memiliki risiko terukur.

Selain itu, peningkatan partisipasi juga didukung oleh distribusi digital yang semakin luas. Edukasi yang lebih masif serta kemudahan pembelian melalui platform online membuat akses terhadap SBN ritel semakin mudah.

Investor Cenderung Pilih Tenor Pendek

Banjaran menambahkan, investor saat ini cenderung memilih tenor pendek seperti SR024-T3. Hal ini berkaitan dengan ketidakpastian arah suku bunga global.

“Tenor pendek memberikan fleksibilitas lebih tinggi karena dana tidak terkunci terlalu lama, sehingga investor dapat lebih cepat menyesuaikan portofolio,” jelasnya.

Instrumen tenor pendek juga dinilai lebih tahan terhadap fluktuasi harga karena memiliki risiko durasi yang lebih rendah, sehingga cocok untuk strategi diversifikasi portofolio.

Prospek SBN Ritel Masih Menarik

Secara keseluruhan, SBN ritel diperkirakan tetap menjadi pilihan utama di tengah volatilitas pasar global. Investor cenderung mencari instrumen yang stabil dan aman saat ketidakpastian meningkat.

Ke depan, pemerintah masih akan menerbitkan sejumlah seri SBN ritel lainnya, antara lain:

  • ST016 (8 Mei–3 Juni 2026)
  • ORI030 (6–30 Juli 2026)
  • SR025 (21 Agustus–16 September 2026)
  • SWR007 (4 September–21 Oktober 2026)
  • SBR015 (28 September–22 Oktober 2026)
  • ST017 (6 November–2 Desember 2026)

Meski demikian, besarnya penyerapan ke depan tetap akan dipengaruhi oleh tingkat kupon, momentum penerbitan, serta kondisi likuiditas dan selera risiko investor.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025