Prospek Saham Rumah Sakit di 2026: Cek Pendorong Kinerja & Tantangan Tersembunyi

  Prospek emiten sektor rumah sakit pada tahun 2026 diperkirakan tetap cerah seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan dan ekspansi jaringan rumah sakit yang masih berlanjut. Head Research Korea Invesment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, peningkatan volume pasien, baik dari segmen BPJS maupun pasien privat, akan menjadi pendorong utama kinerja sektor ini.  Selain itu, ekspansi rumah sakit turut meningkatkan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR). Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan saham emiten rumah sakit seperti PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ). “Peningkatan volume pasien serta ekspansi akan mengerek tingkat keterisian tempat tidur (BOR). Hal ini langsung mendongkrak margin profitabilitas dan laba,” ujar Wafi kepad...

Prospek emiten sektor rumah sakit pada tahun 2026 diperkirakan tetap cerah seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan dan ekspansi jaringan rumah sakit yang masih berlanjut. Head Research Korea Invesment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, peningkatan volume pasien, baik dari segmen BPJS maupun pasien privat, akan menjadi pendorong utama kinerja sektor ini. Selain itu, ekspansi rumah sakit turut meningkatkan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR). Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan saham emiten rumah sakit seperti PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ). “Peningkatan volume pasien serta ekspansi akan mengerek tingkat keterisian tempat tidur (BOR). Hal ini langsung mendongkrak margin profitabilitas dan laba,” ujar Wafi kepada Kontan, Kamis (2/4/2026). Hal yang sama juga dicermati oleh Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan. David juga melihat bahwa kenaikan volume pasien baik dari segmen BPJS maupun privat akan mendorong pertumbuhan pendapatan (top line) emiten rumah sakit. Namun, dampaknya terhadap laba dan pergerakan saham dinilai tidak akan merata. “Emiten dengan porsi pasien privat lebih besar seperti MIKA dan SILO cenderung memiliki margin lebih tinggi sehingga lebih cepat translate ke bottom line. Sementara HEAL dan SRAJ butuh waktu karena masih fase turnaround dan efisiensi operasional,” tandas David. Dari sisi katalis, Wafi melihat implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS serta penguatan layanan fasilitas Center Of Excellence dapat menjadi pendorong pertumbuhan emiten sektor ini. Upaya tersebut dinilai mampu menahan pasien untuk tidak berobat ke luar negeri, sehingga meningkatkan utilisasi layanan rumah sakit dalam negeri. Namun demikian, ada sejumlah risiko yang perlu dicermati. Wafi menyoroti tingginya beban depresiasi dan bunga akibat ekspansi rumah sakit baru sebagai salah satu faktor penekan kinerja. Selain itu, keterbatasan dokter spesialis serta pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya alat kesehatan dan obat impor juga menjadi tantangan. Lalu David pun bilang, tekanan tarif BPJS yang cenderung tipis dapat membatasi margin, sementara kenaikan biaya operasional, terutama untuk tenaga medis dan alat kesehatan, berpotensi menekan profitabilitas. Di sisi lain, risiko utilisasi rumah sakit baru yang belum optimal juga dapat membebani kinerja dalam jangka pendek. Tak hanya itu saja, Equity Research Analyst Ciptadana Sekuritas Alif Ihsanario dalam riset 11 Maret 2026 mencatat sejumlah risiko masih membayangi kinerja sektor rumah sakit. Beberapa di antaranya adalah persaingan tenaga dokter spesialis di tengah keterbatasan tenaga medis, serta tekanan inflasi biaya medis yang berpotensi lebih tinggi dibandingkan kemampuan penyesuaian tarif layanan. Selain itu, pemulihan jumlah pasien yang sebelumnya berobat ke luar negeri diperkirakan berlangsung lebih lambat dari ekspektasi. Di sisi lain, industri ini juga menghadapi persaingan asimetris dari jaringan rumah sakit milik pemerintah, serta ketidakstabilan di sektor asuransi kesehatan swasta yang dapat memengaruhi arus pasien. Adapun dari sisi makroekonomi, pelemahan kondisi ekonomi berisiko menunda permintaan layanan kesehatan elektif dengan biaya tinggi. Jika dilihat dari sisi kinerja keuangan, emiten rumah sakit menunjukkan hasil yang bervariasi pada 2025. Sejumlah emiten sektor rumah sakit seperti MIKA dan SILO berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja laba bersih positif di sepanjang tahun 2025. Namun, HEAL masih mencatatkan tekanan pada laba bersihnya yang menyusut, sedang SRAJ justru membukukan rugi bersih. David pun memperkirakan kinerja emiten rumah sakit pada 2026 masih akan bertumbuh, meski tidak seragam di seluruh pemain. Ia menjelaskan, MIKA dan SILO berpotensi mempertahankan kinerja yang solid berkat profitabilitas yang kuat dan efisiensi operasional yang terjaga. Sementara itu, HEAL dan SRAJ memiliki peluang untuk membalikkan kinerja menjadi lebih baik, namun sangat bergantung pada perbaikan margin serta optimalisasi utilisasi aset. “Secara umum sektor rumah sakit tetap menarik sebagai sektor defensif dengan permintaan yang relatif stabil. Namun selektivitas penting, maka fokus pada emiten dengan margin kuat, eksekusi ekspansi baik, dan eksposur privat tinggi,” jelasnya. Melihat kondisi tersebut, Wafi memberikan rekomendasi buy dengan target harga saham berikut untuk masing-masing emiten. Ia merekomendasikan MIKA dengan target harga Rp 3.100 per saham, SILO Rp 3.000 per saham, HEAL Rp 1.450 per saham, dan SRAJ Rp 17.000 per saham. Sementara Alif menjagokan saham MIKA untuk beli dengan target harga Rp 2.800 per saham. Tak ketinggalan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, merekomendasikan saham SILO untuk add dengan target harga Rp 3.170 per saham. Cermati Rekomendasi Saham Emiten LQ45 Usai Raih Kinerja Positif di Tahun 2025

 

Mayoritas emiten LQ45 berhasil meraih kinerja keuangan positif pada tahun 2025. Di mana, lonjakan laba bersih terlihat pada rapor emiten LQ45.

Berdasarkan catatan Kontan, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatatkan kenaikan laba bersih tertinggi, yakni melonjak 767,16% menjadi US$ 489,8 juta pada 2025, dari US$ 56,48 juta pada tahun sebelumnya. 

Selanjutnya, ada PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang meraih lonjakan laba bersih sebesar 126,8% menjadi Rp 7,64 triliun di tahun 2025, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,36 triliun.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengungkapkan mayoritas emiten LQ45 mencatatkan kinerja positif karena ditopang oleh fundamental yang solid, konsumsi domestik yang stabil, serta efisiensi operasional.

Selain itu, harga komoditas yang masih relatif tinggi turut menjaga kinerja sektor energi dan tambang. Namun, kinerja tersebut belum sepenuhnya tercermin di harga saham akibat arus keluar dana asing dan tingginya suku bunga global.

Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menjelaskan bahwa Bursa mengelompokkan indeks LQ45 berdasarkan saham dengan likuiditas tinggi dengan kapitalisasi pasar besar dan fundamental yang baik.

Jadi wajar jika saham yang tergabung dalam indeks LQ45 memiliki kinerja keuangan yang solid pada tahun 2025, meskipun tidak mencangkup semua sektor. Misalnya, sektor metal mining didorong oleh kenaikan harga emas. Selain itu, sektor lainnya cenderung mengalami pertumbuhan moderat.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menambahkan kinerja emiten LQ45 pada 2025 tumbuh positif didorong kombinasi pertumbuhan volume, perbaikan margin, serta low base effect dari 2024. 

Di sisi lain, Elandry memperkirakan, prospek emiten LQ45 di tahun 2026 mengalami rebound terbatas dan sangat selektif, dengan katalis dari potensi stabilisasi suku bunga global, kondisi ekonomi domestik yang relatif terjaga, serta peluang kembalinya aliran dana asing ke saham big caps.

"Namun, outlook tersebut masih dibayangi sejumlah risiko, seperti ketidakpastian arah suku bunga global yang masih tinggi, tekanan inflasi akibat kenaikan harga, serta eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi meluas. Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penting yang akan memengaruhi arus modal asing," kata Elandry belum lama ini.

Sementara itu, Ratih menambahkan hingga akhir Maret 2026, indeks LQ45 diperdagangkan pada level 9,7 kali P/E dan 1,3 kali PBV di bawah rata-rata historis lima tahun terakhir. 

Dari sisi kinerja, indeks LQ45 mencatat penurunan sebesar 15,45% secara year-to-date (ytd), sejalan dengan pelemahan IHSG yang capai 18,49% (ytd) hingga akhir Maret 2026. Koreksi ini didorong oleh faktor arus dana, tercermin dari outflow investor asing sebesar Rp 27,66 triliun hingga Selasa (31/3). 

"Saham-saham Big Banks seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI mengalami tekanan jual asing signifikan hingga akhir Maret 2026," ujar Ratih.

Beberapa faktor utama yang mendorong outflow, depresiasi nilai tukar rupiah, potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global, isu terkait transparansi kebijakan, penurunan outlook surat utang, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap defisit fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah kenaikan harga energi.

Dalam jangka pendek, terdapat katalis positif yang dapat menopang daya tarik sektor perbankan, khususnya melalui pembagian dividen. Emiten perbankan dijadwalkan melaksanakan RUPST, seperti BMRI (29 April) dan BBRI (10 April), dengan estimasi dividend yield masing-masing 8,1% dan 5,7%.

Di luar sektor keuangan, dinamika global turut membuka peluang di sektor komoditas. Harga minyak Brent mencapai US$ 107 per barel atau naik 78% (YtD) dan harga batu bara Newcastle US$ 139 per ton atau meningkat 31% (YtD).

Sementara itu, sektor metal mining, khususnya nikel, juga menunjukkan prospek menarik dalam jangka menengah dengan harga stabil di US$ 17.200 per ton hingga awal April 2026.

Kebijakan pemerintah untuk memangkas kuota produksi nikel dalam RKAB 2026 menjadi 150 juta ton per tahun dari sebelumnya 364 juta ton pada 2025 mendukung terjaganya supply dan harga jual rata-rata.

Adapun Liza berpendapat memasuki 2026, kinerja LQ45 masih berpotensi tumbuh namun dengan tingkat selektivitas lebih tinggi. Secara makro ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dijaga di kisaran 5%, tetapi tekanan eksternal membuat suku bunga tetap relatif tinggi dengan BI Rate di 4,75% dan nilai tukar sensitif. 

"Ditambah lagi, risiko dari harga energi global dan geopolitik membuat pasar cenderung tidak memberikan premium secara merata. Dalam kondisi ini, emiten dengan visibilitas laba yang jelas dan cash flow stabil akan lebih diunggulkan," tambah Liza.

Ratih membagikan sejumlah rekomendasi saham yang menarik untuk dicermati:

1. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI

  • Rekoemndasi: Buy dengan target harga pada resistance di level Rp 4.800 serta pertimbangkan support di level Rp 4.600.

2. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)

  • Rekomendasi: Buy dengan target harga pada resistance di level Rp 11.400 serta pertimbangkan support di level Rp 10.200.

3. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)

  • Rekomendasi: Buy dengan target harga pada resistance di level Rp 1.200 serta pertimbangkan support di level Rp 1.080.

Sementara itu, Elandry juga menyarankan sejumlah perusahaan tercatat, antara lain:

1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

  • Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 7.500-Rp 8.000
  • Stoploss: Di bawah Rp 6.100

2. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI

  • Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 5.400-Rp 5.800
  • Stoploss: Di bawah Rp 4.400

3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI

  • Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 3.900-Rp 4.300
  • Stoploss: Di bawah Rp 3.050

4. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)

  • Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 8.200-Rp 8.800
  • Stoploss: Di bawah Rp 6.700

5. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

  • Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 3.900-Rp 4.300
  • Stoploss: Di bawah Rp 3.100

6. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)

  • Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 3.000-Rp 3.300
  • Stoploss: Rp 2.200

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025