Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Sebab Orangutan Kalimantan Berambut Halus bak Baru dari Salon

 

Seekor orangutan betina bernama Fani dilaporkan memiliki rambut yang indah daripada orangutan lain yang ada di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Kalimantan Timur. Fani yang berusia 21 tahun memiliki rambut begitu indah seakan-akan baru saja keluar dari salon.

Pengelola Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari menjelaskan rambut Fani yang tergerai dan berkilau adalah hasil dari kebiasaannya menghabiskan waktu berjam-jam di kanopi.

Fani disebut tak seperti orangutan lain yang ada di tempat rehabilitasi. Fani diketahui jarang turun ke tanah. Dia memilih berpindah tempat dengan bergelantung dari satu cabang pohon ke pohon lain. Sehingga dia terhindar dari lumpur dan tanah yang ada di dasar hutan

"Bergerak melalui pepohonan juga memungkinkan dahan dan batang tipis menyisir rambutnya secara alami, menambah penampilannya yang terawat," kutip keterangan tim komunikasi Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Senin (26/10).

Tak hanya Fani, seekor orangutan betina bernama Kikan, yang juga tinggal di Pulau Samboja juga telah mulai mengikuti jejak Fani.

Di sisi lain, Fani masih dalam pengawasan Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari. Sebab, Fani masih belum memenuhi syarat untuk dibebaskan. Dia diketahui gagal menguasai sejumlah keterampilan bertahan hidup, misalnya membangun sarang dan mencari makan.

"Kekurangan dalam keterampilan dan perilaku alami ini disebabkan oleh lamanya waktu yang ia habiskan di penangkaran sebelum diselamatkan," kutip tim komunikasi.

Namun, fakta bahwa Fani kini bisa hidup di pulau buatan, meski dengan bantuan dan pengawasan teknisi, merupakan suatu perbaikan.

Fani saat ini berbagi tempat tinggal dengan orangutan lain, yakni Romeo dan Kikan. Fani merupakan yang paling dominan dari ketiganya. Hal itu terlihat saat dia berada di kompleks sosialisasi, sebelum pindah ke pulau rehabilitas.

Bahkan Romeo, meski berjenis kelamin laki-laki dikabarkan sangat berhati-hati saat mendekati Fani, karena dikenal bisa membuktikan dominasinya lewat serangan jika diprovokasi.

 

Saat ini, Fani disebut jarang terlihat di tempat makan menunggu pengiriman makanan. Fani lebih diketahui sibuk menjelajahi pulau dan sangat menikmati kebebasan bergerak di ruang terbuka.

Fani diketahui pernah dipelihara di Gelanggang Samudra Jaya Ancol Jakarta sebelum dipindahkan ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025