Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Tertinggal dari RI, Malaysia Kebut Regulasi Mobil Listrik

 

Pemerintah Malaysia menyadari dan segera mengejar ketertinggalan pengembangan mobil listrik dibanding Indonesia dan Thailand dengan membuat kebijakan khusus sebagai bagian dari revisi Kebijakan Otomotif Nasional (National Automotive Policy/NAP) 2020.

 

Menurut CEO Malaysia Automotive Robotics and IoT Institute (MARii) Datuk Madani Sahari, pemerintah Malaysia memahami pentingnya elektrifikasi sehingga ingin mengubah kebijakan, khususnya untuk segmen mobil listrik.

Madani bilang kebijakan baru diharapkan dapat sekaligus menarik investasi dari pabrikan otomotif. Berhembus kabar bila kebijakan ini akan dirilis pemerintah pada akhir kuartal pertama 2021.

 

Sementara itu Presiden Asosiasi Otomotif Malaysia (MAA) Datuk Aishah Ahmad belum dapat memastikan kapan pemerintah mengumumkan kebijakan tersebut. Tapi diyakini Aishah pemerintah serius mendukung era mobil listrik melalui regulasi baru.

"Pemerintah serius mempertimbangkan insentif seperti apa yang harus diterapkan untuk meningkatkan pertumbuhan kendaraan listrik di Malaysia. Mereka sedang memeriksanya, tetapi masalahnya belum selesai," kata Aishah mengutip Paultan yang mendapatkan informasi dari pemberitaan The Edge, Jumat (26/3).

"Masih dalam pembahasan dan saya belum tahu kapan diumumkan. Yang bisa saya katakan mereka melihat-lihat karena tidak mau ketinggalan," katanya sembari memastikan bila pembahasan yang dilakukan pemerintah bukan sekadar regulasi, melainkan juga terkait infrastruktur.

Dilaporkan sebelumnya aturan yang dirancang mungkin akan menbuat pemerintah lebih fleksibel dalam hal mobil listrik. Kemudian ada pembicaraan dalam pembahasan aturan tentang kemungkinan penghapusan cukai dan bea masuk untuk kendaraan listrik.

Madani menambahkan kebijakan baru itu akan mengatasi masalah secara luas dan tujuannya memastikan elektrifikasi pada akhirnya muncul pada tingkat yang signifikan.

"Jika kita tidak masuk ke EV, akan banyak aspek teknologi yang tidak akan diterapkan di negara kita. Jadi, Malaysia rugi, "ujarnya.

Tak seperti Malaysia, pemerintah Indonesia diketahui telah lebih dahulu mendukung era kendaraan listrik melalui berbagai regulasi. Kebijakan yang ditelurkan juga diklaim telah berhasil menarik sejumlah investasi dari pabrikan otomotif, terutama Jepang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)